Ardhi Pradana, marketing University of New South Wales (UNSW) mengatakan dengan sistem Australia yang sekarang ini, tidak bagusnya adalah masalah kesinambungan kebijakan.
"Program-program yang bagusnya jadi nggak jalan. Bagusnya, program-program yang nggak bagus juga bisa langsung di-cut, ya fifty-fifty lah bagus dan nggaknya," kata pria asal Surabaya yang sudah menjadi permanent resident ini kala ditanya detikcom di restoran Indo Rasa, ANZAC Parade Street, Sydney, NSW, Australia, Selasa (15/9/2015) atas undangan dari Australia Plus ABC International.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ardhi Pradana (Foto: Hany/detikcom) |
Sistem di Australia memang tak memungkinkan warganya memilih langsung, melainkan memilih partai. Partai di Australia, menurutnya sangat banyak, namun warga Australia terbagi dalam 2 kelompok, Partai Buruh dan Partai Liberal. Partai yang kecil-kecil, bergabung ke dua partai itu.
Kondisi politik di Australia, cukup sering ganti pimpinan. Setidaknya 5 tahun sudah 5 kali ganti perdana menteri. Lantas, apakah kegaduhan politik itu ada efeknya sebagai permanent residence seperti dirinya?
"Terasa sekali sebenarnya, waktu perpindahan dari Kevin Rudd ke Abbott. Dulu waktu Rudd, ada kebijakan banyak fasilitas buat keluarga. Abbott lebih memudahkan bisnis, sementara Labour Party banyak fasilitas buat keluarga. Dan Abbott lebih berat lagi karena kebijakannya cenderung ke bisnis," kata Ardhi yang sudah 15 tahun di Sydney ini.
Pria double degree dari UNSW ini mengatakan beberapa elemen masyarakat di Australia tak menyukai Abbott, seperti kebijakan pada imigran dan soal pengetatan anggaran.
Willix Halim (Foto: Hany/detikcom) |
Di tempat terpisah, salah satu pendiri situs start up yang berbasis di Sydney, freelancer.com sekaligus Vice President of Growth freelancer.com, Willix Halim mengatakan bahwa Turnbull lebih pro pada perusahaan start up.
"Turnbull itu lebih terbuka dan support ke teknologi, dulunya dia kan investment banker. Sangat positif impact pada perusahaan start up. Abbott lebih konservatif yah," kata Willix kala ditemui di kantornya hari ini di Ernst and Young Tower, George Street, Sydney.
WNI asal Medan, Sumatera Utara yang sudah menjadi permanent residence selama 6 tahun dan sudah tinggal di Australia sejak 15 tahun lalu ini mengatakan bahwa persepsi di kalangan pengusaha start up dengan suksesi ini sangat positif.
Suksesi yang kerap di Australia ini berefek tidak ke bisnis freelancer.com?
"Nggak sih. Soalnya di Australia ini sangat independen ya (pemerintahannya), antara pusat dan negara bagian. Tidak berefek, tapi dengan masuknya Turnbull itu bisa membawa perubahan yang positif," jelas pria 27 tahun lulusan jurusan robotika Melbourne University ini. (nwk/fdn)











































Ardhi Pradana (Foto: Hany/detikcom)
Willix Halim (Foto: Hany/detikcom)