"Perkembangan radikalisme baru bernama ISIS sangat mengkhawatirkan. Sasaran target mereka adalah kalangan muda dan mahasiswa," ujar Abdurrahman.
Hal ini disampaikan Abdurrahman dalam acara dialog bertajuk 'Dialog Pencegahan Paham ISIS di Kalangan Perguruan Tinggi di DIY' di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ring Road Barat, Selasa (15/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak sekali anak muda yang terjaring propaganda melalui media sosial," tuturnya.
Tak hanya itu dia mengatakan bahwa kalangan muda yang tidak memiliki ilmu agama yang cukup juga menjadi sasaran empuk ISIS.
"Apalagi yang punya pendidikan agama yang belum baik, dengan memasukkan ayat-ayat, dia gampang terpengaruh," ujar Abdurrahman.
BNPT mengaku belum memiliki data soal jumlah pasti pelajar dan mahasiswa yang bergabung dengan ISIS.
"Kalau data dari intelijen ada, berbeda-beda. Kalau dari kepolisian, WNI yang tergabung dalam ISIS sudah lebih dari 200 WNI. Data yang lain malah ada yang mengatakan sudah 500 WNI," ulasnya.
Dia mengaku kesulitan untuk mendeteksi lebih lanjut sebab kapan, di mana keberangkatan para WNI ini tidak terlacak. Tak hanya itu rute yang ditempuh juga bermacam-macam dengan beragam alasan.
"Ada yang kunjungan wisata, kunjungan keluarga, umroh, tahu-tahu sudah ada di Suriah. Kita tahunya dia sudah meninggal dan ternyata WNI," katanya. (sip/try)











































