Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), untuk pasangan calon yang sudah ditetapkan KPU, PDIP dan PAN ternyata menjadi partai paling banyak membangun koalisi dengan partai lainnya.
Lalu peta koalisi berlangsung cair dalam dukungan pasangan calon untuk Pilkada 2015, yaitu tidak memperhatikan koalisi nasional soal KIH dan KMP. Misal, PAN ternyata lebih banyak berkoalisi dengan PDIP, meski di nasional beda faksi koalisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian Hanura paling banyak berkoalisi dengan PDIP (71 paslon), PKB paling banyak membangun koalisi dengan NasDem (66 paslon), PKS paling banyak membangun koalisi dengan PAN (65 paslon), Golkar paling banyak berkoalisi dengan Gerindra (40 paslon), PBB paling banyak berkoalisi dengan PAN (34 paslon).
"PPP paling banyak berkoalisi dengan Golkar (28 paslon) dan PKPI paling banyak berkoalisi dengan PAN (37 paslon)," lanjutnya.
Masykurudin menuturkan, berdasarkan peta dukungan koalisi dalam Pilkada tersebut, maka tidak ada relevansi antara KIH-KMP dalam praktek membangun koalisi untuk dukungan pasangan calon dalam Pilkada serentak 9 Desember 2015.
"Koalisi lebih bersifat pragmatis dengan pertimbangan menang-kalah dibandingkan dengan pertimbangan visi, misi dan program yang sama," ujarnya.
"Komposisi pasangan calon mengurangi aspek representasi terhadap aspirasi masyarakat pemilih. Pencalonan pasangan calon di Pilkada serentak masih bersifat sentralistik dan elitis dengan minim memperhatikan aspirasi masyarakat setempat," imbuh Masykurudin. (bal/tor)











































