Berikut kronologi pembunuhan berencana yang dilakukan Nursalim seperti disampaikan Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krisna Murti, Senin (14/9/2015):
14 SEPTEMBER PUKUL 19.00 WIB
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PUKUL 23.30 WIB
Tersangka melihat korban pulang melalui lobi apartemen.
15 SEPTEMBER PUKUL 00.00 WIB
Korban turun ke lobi dan meminta tolong tersangka untuk membukakan pintu kamar yang macet.
PUKUL 01.00 WIB
Rekan tersangka datang ke meja resepsionis, lalu tersangka meminta rekannya untuk menggantikan dirinya karena tersangka hendak naik ke atas untuk membukakan pintu unit korban. Setelah naik ke lantai 10, tersangka pun berpura-pura memperbaiki lubang kunci unit korban. Sesampainya di depan unit korban, tersangka meminta kunci unit korban dan meminta obeng untuk mencongkel kertas. Setelah kertas diambil dan pintu terbuka, korban pun masuk ke dalam unit, tapi ternyata tersangka mengikuti.
PUKUL 01.30 WIB
Tersangka mematikan sakelar lampu yang membuat korban berteriak minta tolong. Karena panik, tersangka membekap mulut korban dengan tangan kiri dan menarik kerah baju korban dengan tangan kanan. Korban diseret ke dapur yang jaraknya 2 meter dari pintu masuk. Kemudian korban dijatuhkan ke lantai dapur dengan kepala menghadap ke bawah. Setelah itu tersangka menduduki punggung korban, sambil mencekik dan membekap menggunakan lap kompor. Tersangka kembali mencekik korban, namun saat itu korban belum tewas.
Tersangka kemudian mencari tali dan menemukan kabel charger yang ada di dapur. Kabel tersebut digunting dan diikatkan ke tangan korban yang saat itu posisinya masih tertelungkup. Tapi korban masih bergerak dan meronta-ronta, hingga akhirnya tersangka kembali mencekik korban sekuat tenaga menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanan tersangka memukul rahang kanan korban hingga dipastikan korban tidak bergerak. Setelah dipastikan tewas, korban diseret ke kamar yang berjarak 2 meter dari dapur. Sesampainya di kamar, sakelar lampu dinyalakan. Tersangka kemudian membersihkan darah korban dengan handuk yang ada di kamar mandi. Saat itu tersangka melihat adanya darah yang keluar dari mulut dan hidung korban akibat dijedotkan ke lantai dapur.
Tak lama tersangka turun ke lobi menggunakan kartu akses korban yang diambil dari dalam tas korban. Di lobi tersangka melihat rekannya yang bernama Sam dan Yogi. Tersangka berkata, "Tunggu di sini, nanti ada Sapirin merapat." Setelah itu tersangka kembali naik ke unit korban di lantai 10. Di unit dia membalikkan tubuh korban yang saat itu masih tertelungkup. Tersangka membuka baju dan pakaian dalam korban. Pakaian kotor tersebut diletakkan di sebelah kanan korban. Tersangka kemudian mengambil handuk untuk membersihkan tubuh korban dan darah di wajah korban. Setelah meletakkan handuk di samping korban, tersangka melepaskan celana panjang dan celana dalam korban.
Tersangka membuka lemari korban untuk mengambil baju korban yang baru dan memakaikannya di tubuh korban. Tersangka kemudian menaikkan tubuh korban ke atas tempat tidur dan menyelimuti korban seolah-olah sedang tidur. Setelah membersihkan lantai dari bercak darah, handuk, serta baju dan celana korban yang terkena bercak darah dimasukkan ke dalam plastik.
PUKUL 03.30 WIB
Sebelum meninggalkan unit korban, tersangka mengambil HP Sony Experia, iPhone 5, kalung emas dan uang tunai Rp 7 juta milik korban. Tersangka juga membuka lemari korban dan mendapatkan uang tunai dolar Amerika, Australia, serta uang Kamboja yang kemudian dimasukkan ke saku celananya. Dia kemudian keluar dari kamar korban sambil membawa kantong plastik berisi baju dan handuk yang ada darahnya menuju pintu exit. Tersangka turun ke lantai 9, dan di sana kantong plastik berisi handuk dan baju dibuang ke tempat sampah.Tak lama dia menuju lobi menggunakan pintu exit untuk turun dan bekerja seperti biasa.
PUKUL 07.00 WIB
Tersangka bertemu Sapirin di lobi sambil bersikap biasa saja seolah tak ada apa-apa. Sapirin, Sam dan Yogi sempat berbincang dengan tersangka hingga tersangka minta izin untuk pulang ke rumah. (rni/nrl)











































