"Udara di Jambi berstatus sangat berbahaya..," kata Romi dalam surat elektronik ke redaksi@detik.com, Senin (14/9/2015).
Berikut surat lengkap Romi:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titik api di sekitar kami bukanlah simbol kemarahan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian Negara terhadap daerah.
Bapak mau kesini sekarang?
Bandara ditutup pak, lagipun tak ada anak sekolah yang menyambut bapak, sekolah diliburkan.
Mau menempuh jalan darat?
Bahaya Pak, asap tebal tidak bagus untuk kesehatan Bapak dan Ibu Iriana.
Biarkan saja seperti ini agar Jambi menjadi lahan sawit dan bisa ditanam tanaman industri, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA, karena ketidakberdayaan kami di sini. Kami pasrah, mungkin ini kehendak Allah SWT.
Bagi saudara/i kami di daerah lain, kami sangat berterima kasih atas do'a yang selalu kalian panjatkan, mohon maaf karena kiriman asap dari Jambi kalian jadi terganggu.
Udara di Jambi berstatus sangat berbahaya. Berita dari berbagai media Kota Jambi sudah tidak layak huni lagi karena 5% udara yang bersih yang bisa dihirup.
Pemerintah pusat sudah tidak peduli pada kami. Hari ini puncaknya 3 juta rakyat Jambi akan terkena kanker paru-paru, terutama anak-anak. Sepertinya lebih peduli pada kekisruhan internal di tubuh istana dari pada nasib rakyat Jambi.
Padahal salah satu penyumbang devisa terbesar negara,
Belum lagi usai Bencana Asap kami sudah dihadapkan lagi pada menurunnya hasil pertanian karet dan sawit yang ditambah harga penjualannya yang menurun drastis sampai titik terparah.
Semoga Pemerintah Pusat dan Daerah bisa melihat sedikit bencana yang kami hadapi dan memberikan solusi jalan keluarnya.
Tolong sebarkan karena media TV dan Koran tidak banyak memberitakan tentang hal ini, terlalu sibuk dengan pemberitaan Kepentingan Pribadi dan Kelompok semata di dalam Istana.
Kami hanya bisa berharap pada doa, sebelum rakyat Jambi mati perlahan di sini. (slm/dra)











































