Penyandera 2 WNI di Papua Nugini Pernah Terlibat Kasus Abepura Berdarah

Penyandera 2 WNI di Papua Nugini Pernah Terlibat Kasus Abepura Berdarah

Salmah Muslimah - detikNews
Senin, 14 Sep 2015 13:31 WIB
Penyandera 2 WNI di Papua Nugini Pernah Terlibat Kasus Abepura Berdarah
Ilustrasi perbatasan RI-PNG (Foto: Dhani Irawan)
Jakarta - Kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menyandera 2 WNI tukang kayu di Skouwtiau, Papua Nugini merupakan kelompok Jefrry. Kelompok ini merupakan buronan Polda Papua dan pernah terlibat dalam kasus Abepura berdarah.

"Mereka OPM dari kelompok Gerakan Separatis Papua Bersenjata, kelompoknya Jeffry Pagawak," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Endang Sodik kepada detikcom, Senin (14/9/2015).

Endang mengatakan Jeffry pernah terlibat penyerangan di sebuah Polsek di daerah Abepura pada tahun 2012. Kelompok ini juga telibat dalam kasus Abepura berdarah, yakni peristiwa penyerangan terhadap petugas polisi di Polsek Abepura oleh belasan massa pada 7 Desember 2000. Massa membawa senjata tajam, satu polisi tewas dalam insiden ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pernah terlibat kasus Abepura berdarah," ucap Endang.

Kelompok Jerry ini menyerang warga yang sedang bekerja menebangan kayu di kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (9/9). Mereka melepaskan tembakan dan membuat satu orang WNI tewas, 1 berhasil kabur dan 2 lainnya yakni Sudirman dan Badar dibawa OPM hingga ke wilayah Skouwtiau, Papua Nugini. Keduanya disandera.  

Saat ini pemerintah RI terus berkoordinasi dengan tentara Papua Nugini. Dalam proses pembebasan sandera, Pemerintah RI tidak bisa terjun langsung karena sudah masuk wilayah PNG sehingga konsulat RI di sana meminta bantuan kepada tentara PNG dan pemda setempat untuk bernegosiasi dengan OPM.

OPM meminta dua tahanan itu dibarter dengan rekan mereka yang ditahan di Polres Keerom, Papua yang terlibat kasus narkoba jenis ganja. Pemerintah RI belum mengambil keputusan apakah akan melakukan barter ini atau tidak. Saat ini negosisasi masih terus dilakukan oleh tentara PNG dengan kelompok OPM. Diharapkan proses negosiasi berjalan baik tanpa ada tindak kekerasan. (slm/mad)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini