Kebakaran lahan dan hutan dimulai sejak tahun 1997 silam, di masa orde baru. Kondisinya memang parah dan nyaris tak ada lagi jarak pandang. Tahun berganti tahun, presiden pun silih berganti, kebakaran lahan tetap terjadi.
Hanya saja, bila merujuk belasan tahun silam, kebakaran terparas hanya terjadi di Riau. Walaupun asapnya tetap menyeberang ke negeri tetangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka, kini pulau Sumatera telah dikepung asap. Tak ada lagi alternatif warga untuk mengungsi. Warga Riau tak ada pilihan lagi, terkecuali pasrah dengan keadaan saat ini.
"Mau mengungsi kemana lagi, kampung halaman saya di Palembang. Tapi kota Palembang sama seremnya kayak Pekanbaru," tutur Ny Elis warga Pekanbaru kepada detikcom, Senin (14/9/2015).
Ungkapan yang sama juga disampaikan Ibu Wati (36) warga Jl Soekarno Hatta. Dia bercerita, sebelumnya saat anak sekolah libur karena asap, kedua anaknya yang masih SD dan SMP dibawa mengungsi ke kampung neneknya di Sumatera Barat.
"Sekarang mau mengungsi ke sana juga asap. Ya percuma saja," kata Ny Wati.
Sedangkan dari pantauan satelit Terra/Aqua tak terbantahkan lagi. Hanya terisisa sekitar 10 persen yang dampak asapnya minim, yaitu di sekitar Bengkulu. Namun secara keseluruhan, wilayah Sunmatera kini terkepung asap. (cha/dra)











































