Ketua DPR Setya Novanto yang memimpin delegasi tersebut beralasan kekurangan waktu. Selama dua pekan yaitu tanggal 30 Agustus hingga 12 September 2015, Novanto menyebut jadwal sangat padat.
"(Tidak ada) Waktunya. Selama 10 hari, itu pertemuan (dengan Trump) mendadak," kata Novanto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Dengan) siapapun (pertemuan) karena kita tidak dalam rangka mendukung, jadi ketemu Trump, Hillary (Clinton), gak ada masalah," ujar politikus Golkar ini.
baca juga: Refly: Tepukan Donald Trump ke Pundak Novanto Merendahkan Martabat Bangsa
Setelah bertemu Trump, Novanto juga bertemu dengan sejumlah pengusaha di San Francisco dan Washington DC. Meskipun dia merupakan seorang ketua parlemen, tapi yang menjadi fokus pembicaraan adalah tentang ekonomi. Kepada Trump dan pengusaha lainnya, Novanto pun memberikan jaminan bahwa investasi di Indonesia aman.
"Itu memberikan jaminan-jaminan termasuk pada Trump bahwa di Indonesia aman, baik, peraturan dipermudah. Jadi ini yang kita berikan jaminan, karena tugas DPR juga bantu pemerintah, fungsi DPR lakukan diplomasi politik dan ekonomi," ungkapnya.
Sebelumnya, Fahri Hamzah menyarankan seharusnya delegasi DPR juga bertemu capres AS lainnya. Itu agar tidak dianggap partisan.
"Saya kira itu biasa saja. Kalau ada kesempatan, Pak Novanto juga ketemu kandidat Partai Demokrat. Saya akan coba sampaikan ke Novanto agar ke tempat Hillary Clinton atau (Joe) Biden," ucap Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2015).
(imk/tor)











































