"Terakhir kali dia bilang ke saya mau itikaf dan mencium hajar aswad. Pikir saya juga kan sudah mulai sibuk pasti di sana," kata Linda saat berbincang dengan wartawan di rumahnya, Jl Kahuripan Blok E3/40 No 15, Bekasi, Minggu (13/9/2015).
Komunikasi itu terjadi pada Kamis (10/9) lalu atau sehari sebelum kecelakaan terjadi. Sebelumnya, Linda dan Ferry selalu saling memberi kabar melalui SMS. Terkadang menanyakan kondisi atau sekedar mengingatkan makan karena cuaca yang sangat ekstrim di Makkah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Jumatnya saya telepon lagi nggak ada kabar, itu pas setelah kejadian di sini jam 22.00 WIB malam," ucapnya dengan nada lirih.
Ia mengatakan tak ada firasat yang ia rasakan saat Ferry berangkat. Ferry hanya meminta maaf pada kedua orang tua dan dirinya saat diantar ke asrama haji.
Sebenarnya, sebelum berangkat Ferry sempat meminta dibelikan pita hitam sebagai penanda barang-barangnya. Saat itu, Linda sempat bingung mengapa suaminya tak menggunakan pita merah putih yang menjadi tanda ia jemaah dari Indonesia. Tetapi ia memilih untuk berpikir positif dan membeli pita yang diminta Ferry.
Jumat (11/9) ketika kecelakaan crane terjadi, ia sempat menghubungi hp Ferry namun tak bisa tersambung. Berulang kali ia menelepon namun voice mail dari operator yang didengarnya. Di saat yang sama, ia melihat berita jatuhnya crane di Mesjidil Haram. Perasaannya tak nyaman sehingga terus menghubungi call center sambil mencoba peruntungan menghubungi hp suaminya.
Kabar pertama soal meninggalnya Ferry ia terima dari pegawai Departemen Agama di Arab Saudi pukul 05.30 WIB. Ia seketika lemas dan bingung bagaimana mengabari ibu mertuanya. Namun, kecelakaan yang dialami Ferry ini semakin nyata dirasakan Linda saat ia ditemui pegawai Departemen Agama Bekasi secara langsung.
Kini, ia mencoba untuk tegar menerima kepergian suaminya. Ia percaya suaminya yang meninggal saat menjalankan rukun Islam ke 5 itu meninggal secara khusnul khotimah. (mnb/mad)












































