Belajar dari Musyawarah Opang dan Go-Jek di Pangkalan Balai Rakyat

Belajar dari Musyawarah Opang dan Go-Jek di Pangkalan Balai Rakyat

Ahmad Masaul Khoiri, - detikNews
Jumat, 11 Sep 2015 13:25 WIB
Belajar dari Musyawarah Opang dan Go-Jek di Pangkalan Balai Rakyat
Foto: Masaul/detikcom
Jakarta - Ojek pangkalan (Opang) dan Go-Jek selalu dilekatkan dengan kekerasan. Opang yang tak suka mengintimidasi para driver ojek online atau Go-Jek. Kerap tersiar di berita-berita, tindak kriminal yang terjadi.

Tapi bagi para tukang ojek di Pangkalan Balai Rakyat, Pasar Rakyat, Jumat (11/9/2015), tidak ada cerita gesekan antara Opang dan Go-Jek. Buat mereka damai itu indah, seperti yang tertulis di spanduk.

Menurut seorang Opang, Timbo (45) semua bermula dari musyawarah pada Rabu malam kemarin. Jadi di pangkalan yang sudah ada sejak tahun 90-an itu, memang ada dua kubu, ojek pangkalan atau opang dan Go-Jek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Akhirnya sepakat damai, setelah musyawarah," terang Timbo yang sudah 8 tahun jadi tukang ojek.

Semua selesai di atas meja. Ada kesepakatan bahwa penumpang yang tidak memesan lewat aplikasi tak boleh diambil Go-Jek, sedang yang memesan melalui aplikasi dibolehkan. Kesepakatan ini disambut baik para tukan ojek. Spanduk pun dipasang sebagai wujud ikrar perdamaian.

Memang sebelum ada perdamaian, terjadi benih-benih konflik. Para opang merasa penghasilannya menurun karena kehadiran Go-Jek. "Dulu saya sehari dapat Rp 150 ribu, sekarang ada Go-Jek jadi cuma Rp 100 ribu. Kurang penghasilan," terang Rian (30) yang masih pikir-pikir gabung Go-Jek.

Sedang Sarmili (47) yang telah gabung Go-Jek mengaku dirinya sengaja bergabung untuk mendapatkan penghasilan lebih. Memang peningkatan pendapatan dia dapatkan. Namun dia juga tak mau bermusuhan dengan rekan-rekannya di pangkalan. Dia merasa bersyukur bisa ada perdamaian dan hidup rukun dengan para opang. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads