Bangga Bernama Unik, Ini Kisah Hidup Tuhan hingga Mati

Bangga Bernama Unik, Ini Kisah Hidup Tuhan hingga Mati

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 11 Sep 2015 11:56 WIB
Bangga Bernama Unik, Ini Kisah Hidup Tuhan hingga Mati
Foto: Putri Akmal
Jakarta - Terselip doa dan harapan di balik sebuah nama. Itu yang dirasakan Tuhan, Saiton, D , Kopi hingga Mati yang bangga dan pede diberi nama unik oleh orang tua mereka.

Nama-nama unik menjadi perbincangan hangat sejumlah kalangan. Respons yang diperoleh pemilik nama unik juga beragam ketika nama mereka disebut. Ada yang tertawa, terkejut bahkan mengusulkan ganti nama agar tidak disalahgunakan.

Tetapi, pemilik nama unik ini justru bangga dan tidak ingin nama pemberian orang tua mereka diganti. "Justru pede," kata mereka.


Begini kisah mereka:

1. Tuhan

Foto: Putri Akmal
Tuhan (42) sudah mendengar saran MUI Jatim agar dirinya berganti nama. Tapi, pria asal Banyuwangi yang akrab disapa Han ini memilih pasrah. Kalau bisa memilih, dia tetap ingin memakai nama Tuhan.

"Ya terserah, tapi ini pemberian orangtua. Ini sudah sejak dari kecil," jelas Han saat berbincang dengan detikcom, Selasa (25/8/2015).

Han memaklumi bila ada yang keberatan dengan nama Tuhan. Menurutnya, nama Tuhan pemberian orangtua dan tentu ada berkahnya.

"Ya ini kan ada berkahnya, kalau ada yang nggak suka bagaimana lagi," ungkapnya.

Han menyampaikan, tak ada maksud tertentu dengan nama Tuhan itu. Tentunya setiap orangtua berharap yang terbaik untuk anaknya.

"Ini dari orangtua," tutup Han yang tengah berada di Jakarta dan hendak syuting acara televisi ini.

2. Saiton

Foto: TransTV/detikTV
Memiliki nama unik pasti ada pengalaman yang berbeda yang didapatkan. Salah satuya yang dialami Saiton (39). Pria asal Palembang, Sumsel, ini bahkan kerap diminta ganti nama.

"Saya Saiton tapi tak pernah mengganggu, malah saya membantu. Saya kan guru," kata Saiton diiringi tawa berderai di ujung telepon, Kamis (27/8/2015).

Saiton mengaku nama itu pemberian orangtuanya, setelah 10 saudaranya meninggal. Entah mengapa ayahnya kemudian memberi nama dia Saiton.

"Ini pemberian orangtua, jadi pernah mau diganti dua kali saya malah sakit," terang dia.

Karena itu, Saiton tetap memakai nama ini, walau nama panggilannya kadang Anton atau Suton. Lalu bagaimana bila MUI meminta dia mengganti nama?

"Saya akan jelaskan seperti yang pernah saya alami," tutup dia.

3. D

Foto: Robby Bernardi
Ada juga yang namanya cuma satu huruf. Seperti ABG asal Pemalang, Jawa Tengah, ini.

D. Ya, nama ABG ini cuma 'D'. Bukan kependekan dari Diana, Desti, Dewi, atau yang lain. Karena belum memiliki KTP, D hanya menunjuk bukti berupa berkas sekolah. Salah satunya 'Sertifikat Hasil Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2014/2015 Sementara'. Di situ tertulis jelas di kolom nama: D.

D lahir pada 8 Mei 2000 dari pasangan Mulyaji dan Wariasi, warga Desa Sokawangi, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Saat ini, ia duduk di kelas 10 SMA PGRI 1 Pemalang. Bagaimana pengalaman D menyandang nama satu huruf?

"Ya tiap masuk sekolah (SD, SMP, SMA), selalu ada yang nanya. Teman-teman pada heran, tapi lama-lama biasa," kata gadis berjilbab ini di sekolahnya, Jumat (4/9/2015).

D tak merasa aneh dengan namanya. Dia justru pede dan senang dengan nama pendek itu. "Malah senang, nggak ada kembaran," kata D sambil tersenyum.

Ortu D, Mulyaji dan Wariasi, sebetulnya memiliki 4 anak. Namun 2 anak pertamanya meninggal sebelum diberi nama. Jadi, kini hanya D dan kakaknya yang masih hidup. Apakah nama kakak D juga cuma satu huruf? Ternyata tidak.

"Nama kakak saya Iin Miskriani," kata D polos.

4. Andy Go To School

Foto: Tri Joko Purnomo
Ada 3 bersaudara yang memiliki nama tak biasa. Mereka adalah Andy Go to School, Happy New Year, dan Rudi A Good Boy. Dilihat dari kata yang digunakan, nama itu memang memiliki arti khusus.

Happy adalah anak pertama, disusul Andy dan Rudi. Ketiganya anak pasangan Bulkin dan Nakimah (almarhum), warga Dusun Kedung Rengit RT 01 RW 04, Desa Tegalarum, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Sesuai namanya, Happy New Year lahir tepat pada tahun baru, 1 Janauri 1978. Sedangkan Andi lahir 15 Juni 1986 dan Rudi lahir 11 Maret 1990. Andy berprofesi sebagai anggota Sumda (Sumber Daya Manusia) Polres Magelang Kota berpangkat Brigadir, Happy sibuk berbisnis pasir, sedangkan Rudi menjadi anggota TNI di Bandung Jawa Barat.

"Saya baru sadar nama saya tidak biasa setelah masuk SMP. Saat itu sudah dapat pelajaran bahasa Inggris," kata Goto, panggilan Andy Go To School, di Mapolres Magelang Kota, Selasa (1/9/2015).

"Kata Bapak, saya diberi nama itu agar rajin sekolah, tidak seperti kakak yang katanya suka membolos," tambahnya sambil tertawa.

Kalau nama adiknya Rudi A Good Boy, bagaimana ceritanya? "Kata Bapak, biar Rudy tidak seperti saya yang bandel," kata suami dari Heni Maesaroh ini.

Dulu, Goto merasa beban menyandang nama tersebut. Lama-lama, ia merasa enjoy. Selepas SMP dan SMA di Muntilan, ia bersekolah polisi di Purwokerto pada tahun 2006, kemudian ditempatkan di Polres Magelang, Wonosobo, dan kini Polres Magelang Kota. Ia tinggal bersama keluarga kecilnya di Asrama Polisi Ganten Blok E, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kota Magelang.

Goto meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Dia memberi nama anak semata wayangnya berusia 4 tahun Virgenio Silvero Go To Paradise. Apa artinya? "Saat ia lahir, saya membeli mobil merek Virginia warna perak atau silver dari hasil bisnis pembibitan lele," papar Goto.

5. Mati

Foto: Ghazali Dasuqi
Wanita di Situbondo, Jawa Timur, ini lahir dengan nama Mati. Dia tak pernah gusar dengan namanya, meski latar belakang pemberian nama cukup mengerikan.
Β 
Pemberian nama Mati bukan tanpa alasan. Disebut-sebut, pemberian nama Mati oleh kedua orang tuanya, yakni pasangan Marin - Ambasi, karena bayi Mati terlahir di era pembataian silam sehingga banyak warga yang mati akibat dibantai.

"Menurut cerita orangtua sih begitu. Saya tidak tahu pembantaian apa. Saya juga tidak pernah mempermasalahkan pemberian nama itu. Warga dan para tetangga sudah terbiasa dengan nama saya," kata Mati di rumahnya, Dusun Palangan Barat Desa Palangan Kecamatan Jangkar, Rabu (9/9/2015).

Dari cerita orang tuanya, Mati juga mengetahui, dirinya terlahir di sebuah jurang di sekitar rumahnya, tempat ayah dan ibunya dulu bersembunyi dari aksi pembantaian. Namun, Mati tidak bisa mengisahkan secara detail seperti apa proses persalinan ibundanya di jurang tempat persembunyiannya tersebut.

"Kalau itu saya tidak tahu. Hanya cerita kalau saya lahir di jurang tempat persembunyian. Karena dulu katanya banyak yang mati dibantai. Saya juga tidak tahu pastinya tahun berapa, cuma di KTP tanggal lahir saya tertulis 01-07-1969," sambung wanita buruh tani itu.

Kepala Urusan (Kaur) Umum Kantor Desa Palangan, Wawan memperkirakan, era pembantaian dimaksud adalah pada masa PKI silam. Sebab saat itu memang banyak warga desa setempat yang memilih bersembunyi, karena takut dibunuh.

6. Y

Foto: Sukma Indah Permana
Y (18) mengaku mulai sadar ada yang tak biasa dengan namanya saat mulai duduk di bangku sekolah dasar. Teman-temannya sering bertanya siapa nama panjangnya.

Sejak saat itu, ayah Y, Slamet Sudiyono (49), menyiapkan nama panjang untuk putri keduanya itu. Tak tanggung-tanggung, nama panjang untuk Y benar-benar super panjang.

"Kata bapak, kalau ditanyai lagi jawab saja nama panjang saya Aiwinursiti Dyah Ayu Meganingrum Dwi Pangastuti Lestari Endang Pamikasih Sri Kumalasari Dewi Puspita Anggraeni," kata Y sambil tersenyum lebar.

Hal ini diceritakan Y saat ditemui di sekolahnya SMKN 2 Yogyakarta, Jl AM Sangaji, Selasa (8/9/2015).

Y menyebutkan nama panjangnya itu dengan sangat fasih dan cepat. Dia mengaku tak kesulitan untuk menghafalnya nama itu.

Meski ternyata sudah memiliki nama panjang itu, Y belum memiliki keinginan mengubah nama resminya yang hanya satu huruf itu. Dia menyadari belakangan dia mengalami kesulitan, terutama saat akan melakukan registrasi secara online.

Misalnya saat membuat akun Facebook, Y harus mengubah namanya profilenya menjadi Yeye. Begitu juga saat akan mendaftar sebuah lomba secara online, dia menuliskan namanya dengan Yee.

"Nggak mau ganti. Katanya sih memang kalau cuma satu huruf nggak bisa keluar negeri ya, bikin paspornya susah, tapi nanti aja itu," tutur perempuan kelahiran 1997 itu.

7. Diraih Sakniki

Foto: Ghazali Dasuqi
Pada tahun 1995 silam, Rokso (56) dan Nurhayati (49) pasutri asal Desa Semiring Kecamatan Mangaran ini baru dikaruniai seorang anak, setelah 10 tahun menikah. Saking bahagianya, pasutri ini memberi anak pertamanya dengan nama Diraih Sakniki. Dalam bahasa Jawa, Diraih Sakniki memiliki arti 'diperoleh sekarang'.

"Saya spontan memberikan nama itu, karena saat itu saya benar-benar bahagia mendapatkan apa yang saya idamkan. Nama itu memang saya ambilkan dari bahasa Jawa, meskipun saya orang Situbondo asli yang sehari-harinya berbahasa Madura," kata Rokso kepada detikcom di rumahnya, Kamis (10/9/2015).

Rokso dan Nurhayati lantas mengisahkan, sejak menikah dirinya memang sangat mengidamkan dikaruniai seorang anak. Namun keinginan itu baru terkabul setelah pernikahan keduanya berlangsung selama sekitar 10 tahun. Menurut Rokso, berbagai upaya dilakukan agar istrinya bisa segera hamil. Mulai dari periksa secara medis, hingga merawat rahim istrinya melalui jasa tukang pijat. Namun, keinginan itu tidak kunjung terkabul.

"Sampai saya punya niat, kalau nanti dikaruniai anak mau saya bawa ke Ponpes Genggong di Probolinggo. Saya sering menangis dan berdoa agar saya segera diberi keturunan. Saat itu saya yakin istri saya tidak mandul," papar pria berprofesi buruh tani itu.

Usaha dan doa pasutri ini akhirnya terkabul. Di penghujung tahun 1994 silam, Nuryahati dinyatakan hamil. Saking senangnya, Rokso pun rela untuk lebih berhati-hati menggauli istrinya saat sedang hamil muda, agar tidak berpengaruh pada kehamilan istrinya.

"Dan alhamdulillah, akhirnya doa kami terkabul. Tepat hari Selasa tanggal 13 Juni 1995, anak pertama kami akhirnya lahir dengan selamat. Apa yang kami idam-idamkan tercapai, makanya kami beri nama Diraih Sakniki. Berarti sekarang usianya sudah 20 tahun tapi belum menikah," tuturnya.

Menurut Rokso, nama sang anak Diraih Sakniki dianggap tidak ada yang aneh oleh para tetangganya. Sebab, saat itu kebanyakan warga sekitar tidak paham dengan istilah Jawa. Rokso sendiri mengerti dengan arti dari nama anaknya tersebut, karena sering bergaul dengan orang yang berbahasa Jawa.

"Orang sini memanggil Diraih Sakniki dengan panggilan Dirai. Dia sulung dari dua bersaudara. Anak kedua saya perempuan, namanya Inayatul Ula. Tapi Diraih sendiri sekarang sedang tidak di rumah, dia sedang bekerja," timpal Nurhayati.

Saat dihubungi melalui ponselnya, Diraih Sakniki merasa tidak ada yang aneh dengan namanya. Dia menerima nama itu sebagai pemberian terbaik dari orang tuanya. Diraih sendiri mengaku sudah mengetahui sejarah orang tuanya hingga memberikan nama tersebut.

"Ada sih beberapa teman yang menegur saya terkait nama. Rata-rata mereka bilang nama saya bagus," tutur Diraih.

Diraih mengisahkan, pernah pada saat dilakukan operasi lalu lintas di jalan raya, SIM C miliknya 'diamankan' polisi. Bukannya untuk dikenai sanksi tilang karena melanggar, melainkan karena si polisi kepincut dengan nama Diraih Sakniki yang ada dalam SIM miliknya tersebut. Sampai-sampai, si polisi tadi mengabadikan SIM C milik Diraih dengan kamera ponsel miliknya.

"SIM saya difoto, karena katanya nama saya bagus," pungkas Diraih.

8. Kopi

Foto: Imam Wahyudiyanta
Berbicara tentang nama unik, Gresik juga mempunyai satu warga bernama unik. Adalah Kopi nama tersebut. Pemilik nama ini warga Dusun Karangasen, Desa Sirnoboyo, Kecamatan Benjeng, Gresik.

Ditemui di rumahnya yang sederhana, Kopi menuturkan bahwa yang memberinya nama unik adalah sang kakek, Wariso. Ada cerita dari Kopi mengapa nama minuman tersebut tersemat menjadi identitasnya.

"Saya dulu sering sakit-sakitan dan terus menangis saat kecil, karena itulah nama saya akhirnya berubah menjadi Kopi," kata Kopi kepada detikcom, Jumat (11/9/2015).

Kopi menceritakan, Sokran adalah nama Kopi pertama kali. Pada usia 4 tahun, namanya berubah menjadi Brahim. Dan pada usia 7 tahun, namanya berbuah lagi menjadi Kopi.

"Kakek saya kesal, karena sudah berganti nama tetap saja saya sakit-sakitan. Jadi dia spontan memberi nama saya Kopi dan sejak itu saya tak sakit lagi. Saya nggak berganti nama lagi," kata pria 57 tahun itu.

Kopi merasa tak ada yang aneh dengan nama tersebut. Tetapi nama itu justru dianggap aneh oleh orang lain. Tak jarang orang tergelak saat Kopi memperkenalkan dirinya.

"Kadang-kadang orang tertawa saat berkenalan," ujar Kopi juga sambil tertawa.

Bila sedang mengurus sesuatu dan ada panggilan untuk dirinya, orang yang sedang mengantre pun juga tersenyum dan tertawa. Tetapi dia cuek saja. "Semisal saya mengantre di samsat, saat mendapat panggilan, ada saja orang yang tertawa," lanjut Kopi.

Ternyata di keluarga Kopi, bukan cuma nama dia saja yang unik. Kopi adalah anak pertama dari empat bersaudara. Nama lain yang unik adalah nama adiknya atau anak nomor tiga.

"Namanya Cukup. Nama saudara saya yang lain biasa saja, Kusari dan Suharto," jelas suami Kemi ini.

Kopi juga tidak mengalami kesulitan mengurus sesuatu karena namanya yang unik ini. Hanya saja tanda tangan dia memang tertulis jelas atas namanya. Namun hal itu disebabkan karena Kopi memang buta huruf.

"Kulo mboten saget moco tulis (saya tidak bisa baca tulis), saya hanya menulis tanda tangan seperti yang diajarkan," terang kakek dua cucu ini.

Sayangnya saat ini Kopi tidak bisa menikmati minuman yang mempunyai nama sama dengan namanya tersebut. Dulu Kopi memang biasa meminum kopi. Namun akibat penyakit asam lambung yang dideritanya, Kopi pun terpaksa berhenti minum kopi.

"He he, saya tidak boleh minum kopi sekarang. Lambung suka sakit kalau minum kopi. Saya sekarang minumnya teh saja," pungkas ayah dari Suryati Dewiningsih ini.



Halaman 2 dari 9
(aan/try)


Berita Terkait