Maling di Gedung DPR (1)
Politis atau Perut Lapar?
Senin, 28 Feb 2005 09:03 WIB
Jakarta - Kamis (24/2/2005) anggota DPR yang dikenal sangat vokal, Alvin Lie, yang baru saja akan melakukan aktivitas di gedung DPR terkejut. Ada maling masuk ke ruangannya di gedung Nusantara I, kompleks DPR, Senayan, Jakarta.Uniknya, sang maling itu hanya menggondol hardisk personal computer (PC) di ruang kerjanya. Semua barang berharga lainnya, masing utuh teronggok di tempat masing-masing. Tidak ada yang hilang selain penyimpan data tersebut.Alvin yang juga dikenal sebagai Koboi Senayan ini pun kemudian menduga-duga, siapa gerangan dan apa tujuan si pelaku. Tidak ada tanda-tanda kerusakan pada pintu ruangnya tersebut. Artinya si maling ini adalah orang tahu betul situasi kantornya.Di gedung tempat berkumpulnya para politikus itu apa pun memang cepat merebak. Tidak terkecuali kisah maling hardisk ini. Ternyata tidak hanya Alvin yang pernah kehilangan, sejumlah anggota DPR lainnya juga mengaku pernah mengalami kejadian serupa.Mereka adalah Abdul Gafur anggota Komisi III . Azamuddin, Komisi IV dari FPAN, Adi Warsita Adinegoro anggota Komisi IV, Faridah Effendy anggota Komisi X, dan Hasanuddin Murad anggota Komisi V. Sama seperti Alvin, barang-barang berharga mereka juga tidak ada yang hilang.Sejumlah dugaan kemudian bermunculan dari sesama anggota dewan. Melihat fakta-fakta kejadiannya, banyak anggota dewan berpendapat kasus ini bermuatan politis. Si pelaku ingin mencuri data milik politisi-politisi tersebut.Pelaku juga disinyalir sebagai 'orang dalam' atau orang yang tahu betul situasi aman untuk beraksi. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda kerusakan sama sekali pada bagian fisik ruangan. Artinya, pelaku tidak perlu memaksa masuk ke dalam ruangan para anggota dewan tersebut.Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Andrianus Meliala mengatakan, kemungkinan tersebut sangat terbuka. Hal tersebut mengingat anggota dewan adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia politik. Segala pertimbangan yang dilakukan anggota dewan adalah pertimbangan-pertimbangan politik.Andrianus menegaskan, persoalan ini perlu dijawab dengan tuntas. Untuk memastikan itu semua, harus ada penyelidikan yang serius dalam kasus ini. Sebab, sambung Andrianus, juga bukan tidak mungkin kasus ini hanya sekadar masalah perut belaka."Karena bila yang dicurinya hanya hardisk saja apalagi sampai 6 orang anggota DPR, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, memang bisa diprediksikan ada pencuri yang spesialis hardisk, yakni pencuri adalah orang yang benar-benar mengerti tentang hard disk ini. Jadi kalau kita berbicara masalah teori konspirasi maka bila sudah mencuri hardisk berarti sudah mencuri seluruh filenya. Kedua, mungkin itu hanya persoalan maling biasa," ungkap Andrianus.Memang, seperti kata Andrianus, terlalu dini memang untuk menyimpulkan motif di balik kasus ini. Apalagi buru-buru mengatakan kasus ini bermuatan politis. Bisa jadi, pelaku adalah orang dalam yang tahu hardisk sebagai benda berharga. Namun selama ini hardisk tersebut tidak digunakan alias nganggur. Toh kalau diambil tidak akan banyak yang merasa kehilangan.Seperti dikatakan Alvin Lie, selama ini dirinya tidak pernah menyimpan data peribadi di PC-nya tersebut. Data-data penting selalu disimpannya di dalam laptop pribadi. Hal yang sama juga dikatakan korban lainnya, Abdul Gafur. Menurut Gafur, hardisk yang dicuri dari PC di ruang kerjanya itu masih kosong.Si pencuri menganggap hardisk itu bukan benda yang penting karena jarang dipakai. Jadi si pencuri berpikir, apa salahnya kalau 'dibawa pulang' saja ke rumah. Buktinya meski dari pengakuan sejumlah anggota dewan terungkap kasus serupa terjadi sejak beberapa bulan lalu, tidak ada ribut-ribut. Tidak terdengar peristiwa pencurian itu dilaporkan ke polisi. Tapi sekali lagi, ini juga baru teori yang masih perlu diselidiki.
(djo/)











































