Muncikari di Surabaya Tawarkan Gadis Belia, Paling Mahal AS

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Kamis, 10 Sep 2015 21:01 WIB
Foto: Imam Wahyudianto
Surabaya - Polisi menemukan banyak foto perempuan cantik di ponsel kedua tersangka prostitusi online. Para perempuan tersebut adalah anak buah sekaligus 'dagangan' kedua tersangka.

"Yang menjadi anggota grup Princess yang dijalankan tersangka adalah 65 perempuan. Sementara yang freelance ada 20 perempuan," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Takdir Mattanete kepada wartawan, Kamis (10/9/2015).

Freelance di sini, kata Takdir, adalah perempuan yang tidak tergabung dalam grup Princess. Tetapi mereka juga turut ditawarkan ke para pria hidung belang dengan aturan berbeda dengan grup Princess.

Sementara grup Princess, yang model panas AS tergabung di dalamnya, mempunyai aturan tersendiri. Salah satu aturannya adalah pengenaan komisi 30 % kepada admin grup dalam hal ini tersangka. Harga atau tarif diaku Takdir ditentukan dari para PSK online tersebut.

"Dari tarif itu, kedua tersangka meminta komisi 30 persen nya," ujar Takdir.

Para perempuan yang menjadi anak buah kedua tersangka berasal dari sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Solo, Bali, dan lain sebagainya. Kedua tersangka menawarkan 'dagangannya' sesuai dengan di mana pemesan berada.

"Bila pemesan berada di Semarang, maka semua foto perempuan yang ada di Semarang ditunjukkan untuk dipilih pemesan," lanjut Takdir.

Anak buah AT dan AS ini berasal dari mahasiswa dan profesi seperti SPG dan model. Usia mereka bervariasi antara 18-25 tahun. Tarif mereka juga bervariasi mulai dari yang paling murah Rp 1 juta hingga yang paling mahal Rp 7,5 juta. Tarif paling mahal itu adalah tarif untuk AS.

"Tersangka mengaku mulai menjalankan aksi ini sekitar Agustus kemarin," kata Takdir.

Meski baru saja menjalankan aksinya, tetapi kedua tersangka sudah mendapat banyak anak buah dan juga pesanan. Khusus untuk AS, tersangka mengaku dikenalkan dengan AS melalui anak buah nya yang ada di Surabaya.

Dalam sehari, tersangka mengaku bisa mendapat order dua kali. Tetapi bila akhir pekan, order bisa melonjak menjadi lima kali. Kedua tersangka adalah mahasiswa sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Tetapi mereka cukup mobile untuk kegiatan bisnis haramnya ini.

"Mereka sering berpindah atau bepergian ke Semarang dan Jakarta, selain di Yogyakarta," pungkas Takdir.

(iwd/imk)