Mereka adalah Fath Fadhilah Wardiwira dari jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fitri Tunjung Sari jurusan Teknologi Hasil Perikanan dan Dewi Mentari Nadia jurusan Perpajakan. Produk ikan asin mereka ini lolos dalam seleksi program Kewirausahaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kemendikbud di Kendari, Sulteng, Oktober mendatang.
Foto; Dokumen pribadi |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan Wakasin dengan produk ikan asin di pasaran adalah proses pembuatannya yang higienis dan sudah dilakukan uji laboratorium. Jika ikan asin yang ada biasanya diproduksi tanpa memperhatikan kebersihan, maka Wakasin ini beda.
"Ikan asin yang biasanya itu diolah secara kumuh dan tidak dikemas secara menarik. Oleh kerana ini kami buat ikan asin yang sehat, higienis dan kemasannya menarik," ucap Fadhilah.
Wakasin buatan mereka ini berbahan dasar teri nasi. Ikan tersebut mereka beli dari penjual ikan asin yang sudah dipercaya tidak menjual ikan berformalin, mereka sebelumnya melakukan uji lab terhadap ikan asin yang dibeli. Setelah itu ikan asin direndam dengan air panas bersuhu 80 derajat celcius untuk membunuh bakteri yang ada. Lalu dicuci dengan air mengalir agar kotorannya hilang.
Foto: Dokumen pribadi |
"Setelah dicuci jangan langsung digoreng tapi didiamkan selama 1-2 jam agar saat digoreng ikannya tidak hancur. Setelah itu ditiriskan dan jangan langsung dikemas, tunggu sampai 2-3 jam hingga kering agar saat dikemas tidak terjadi reaksi antara teri dan plastik pembungkus," katanya.
Foto: Dokumen pribadi |
Proses pembuatannya Wakasin dijamin kebersihannya. Selain itu kemasannya juga menarik dengan menggunakan plastik polyethylene yang aman untuk makanan dan dibungkus dengan alat continuous band sealer agar makanan awet dan gizinya tetap terjaga karena tersegel dengan baik.
Selain itu dalam produk Wakasin ini terdapat nilai gizi yang baik untuk kesehatan dan sudah teruji laboratorium. Selain itu Wakasin juga memiliki varian rasa sehingga konsumen tidak akan bosan. Untuk campuran bumbunya juga alami, untuk balado menggunakan cabai yang diolah sendiri dan untuk barberque menggunakan bumbu olahan rumahan.
Daftar nilai gizi yang ada dalam kemasan Wakasin (Foto: Dokumen pribadi) |
"Untuk menambah nilai jual dari ikan asin maka kami mengolahnya secara higienis dan dibuat inovasi tiga varian rasa, yaitu rasa balado, rasa barbeque dan rasa original dengan harapan konsumen tidak bosan dengan rasa ikan asin yang memang hanya memiliki rasa asin saja," ujar Fhadilah.
Produk mereka dijual murah hanya seharga Rp 10.000 per 50 gram. Produk ini juga telah diuji kandungan mikrobiologi, proksimat, dan formalin, semua hasil uji menunjukan hasil yang positif yang menandakan Wakasin aman dan sehat untuk dikonsumsi.
Dalam sebulan mereka bisa memproduksi 150-200 Wakasin dengan modal sekitar Rp 1 juta. Sedangkan pendapatan kotornya bisa sampai Rp 2 juta. Pemasarannya dilakukan melalui teman kos dan kampus, menitip di warung sekitar dan warung oleh-oleh yang ada di Semarang.
Foto: Dokumen pribadi |
Fadhilah berharap Wakasin ini bisa mengubah padangan masyarakat kalau pengolahan ikan asin bisa dilakukan secara bersih dan penuh gizi. Sebab ikan asinย memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan segar. Kandungan protein ikan segar per 100 gram sebesar 17% sedangkan kandungan protein ikan asin per 100 gram sebesar 42 %.
"Harapan kami masyarakat tidak ragu-ragu lagi untuk makan ikan asin. Semoga ada yang mau jadi investor agar produk Wakasin ini dapat menembus pasar ekspor," harapnya. (slm/ndr)












































Foto; Dokumen pribadi
Foto: Dokumen pribadi
Foto: Dokumen pribadi
Daftar nilai gizi yang ada dalam kemasan Wakasin (Foto: Dokumen pribadi)
Foto: Dokumen pribadi