"Itu kayaknya orang sehat. Orang sehat melakukan (thawaf-red) layaknya jalan kaki. Tidak boleh pakai alat," tutur Guru Besar Ilmu Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel, Surabaya, Profesor Aswadi, kepada detikcom, Rabu (9/9/2015).
Aswadi mengatakan substansi ibadah thawaf ada 3. Pertama bagi yang sehat melakukan dengan kaki. Kedua kalau tidak bisa jalan maka menggunakan alat tapi melakukannya sendiri, mungkin bisa tongkat atau kursi roda elektrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika memang masih mampu berjalan, Aswadi mengatakan, jemaah tidak boleh menggunakan bantuan alat. Berjalan berputar mengelilingi Baitullah punya maksud dan tujuan tersendiri.
"Kalau pakai alat napak tilas tidak mengena. Jalan sambil berzikir akan menemukan titik sentral dalam iradah dan takdir Tuhan," papar pria yang juga menjadi petugas haji 2015 itu.
Saat disinggung soal keabsahan thawaf orang sehat yang menggunakan segway, Aswadi mengatakan itu merupakan area fikih. Secara fikih, menurut Aswadi, thawaf adalah mengelilingi kabah tanpa disebutkan caranya.
Informasi seputar video itu sangatlah minim. Termasuk maksud dan tujuan orang yang melakukan thawaf dengan segway itu. Tidak ada informasi apakah orang itu benar-benar serius atau ada kepentingan lainnya. (gah/fdn)











































