Sambil menunggu puncak ibadah haji di Arafah dan Mina, jemaah banyak yang berbelanja, entah itu untuk kebutuhan sehari-hari atau berburu buah tangan untuk saudara di rumah.
Rangkaian puncak ibadah haji akan dimulai dua pekan lagi. Sementara menunggu, apa yang sebaiknya dilakukan jemaah haji terutama dari Indonesia? Bolehkah bersenang-senang dengan belanja misalnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Aswadi menyarankan agar jemaah haji melakukan persiapan Armina dengan cara menjaga kesehatan. Sambil menunggu puncak haji tiba, jemaah yang tiba di Makkah lebih dulu bisa mengisi waktunya dengan zikir dan bertafakkur.
"Kalau berzikir itu berarti mengingat Allah. Baca Alquran, salat berjamaah di Masjidil Haram atau di masjid, dan umroh," katanya.
"Bersedekah, ikut kajian-kajian ibadah, silaturahmi, salat malam, pendalaman manasik," tambahnya.
Persiapan lain adalah berfikir. Guru besar Ilmu Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel, Surabaya, ini menjelaskan salah satu bentuk tafakkur adalah ziarah ke tempat-tempat yang berkaitan dengan sejarah Ibrahim As dan Muhammad saw.
"Misalnya ke obyek-obyek religi yang terkait dengan nabi menerima wahyu di gua hira. Berpikir bagaimana Rasulullah bertahannuts(meninggalkan berhala, beribadah-red) di gua hira," tuturnya.
Berdzikir dan bertafakkur diaksudkan agar jemaah bisa mencapai titik kulminasi tertinggi ketika wukuf di Arafah. Tidak cuma berdiam, wukuf, menurut Aswadi, adalah upaya membangun komitmen tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah.
Berhenti sejenak tapi nantinya bisa membawa perubahan, bergairah untuk melakukan kebaikan. Bisa melahirkan kesalehan sosial, haji bukan untuk dirinya saja.
Ketika berjumroh, Aswadi menerangkan bukan berarti menimpuk simbol setan. Tetapi melemparkan atau membuang hal-hal buruk dalam diri kita.
"Melempar segala gangguan yang akan mengganggu kehidupan kita," tuturnya. (gah/fdn)











































