Pengertian remitansi berkualitas, kata Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, bermakna kiriman uang tidak digunakan untuk hal-hal yang konsumtif, melainkan bagi kegiatan yang produktif seperti investasi pada sektor riil di daerah asal.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia, jumlah remitansi pada semester I tahun 2015 naik 15% dibandingkan semester yang sama tahun lalu, jumlahnya triliunan rupiah. Nah, agar dana sebesar itu tak sia-sia, BNP2TKI memiliki program untuk mewujudkan remitansi berkualitas, antara lain dengan mengampanyekan pengiriman uang ke daerah asal melalui perbankan (e-banking), serta program pendampingan bagi para TKI yang ingin menggunakan dananya untuk sektor-sektor yang produktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nusron mengatakan BNP2TKI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong lembaga keuangan formal untuk dapat bersama-sama menyediakan akses bagi TKI dan keluarganya hingga tercipta remitansi yang berkualitas.
Berdasarkan data Organisasi Buruh Internasional (ILO), dari 100% dana yang dikirim ke keluarga oleh TKI, sejumlah 38% dipakai membayar utang, 22% untuk pendidikan, 26% buat kebutuhan sehari-hari, 2,8% untuk rumah dan 4% dialokasikan kepada investasi produktif. Berdasarkan data itu, terlihat TKI masih terjerat utang tinggi karena sedikitnya lembaga keuangan formal yang bisa memberikan pinjaman.
Sejak awal tahun ini, BNP2TKI telah melaksanakan pemberdayaan di lebih dari 300 titik lokasi untuk kurang lebih 10 ribu TKI Purna dan keluarganya. Pemberdayaan ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait, baik NGO/LSM, industri, akademisi dan kementerian/lembaga lainnya.
Dalam program ini, BNP2TKI berharap wilayah tempat tinggal TKI menjadi sentra produksi dan plasma bagi industri kelas menengah-besar hingga dapat menjadi tujuan investasi bagi TKI. (van/tor)










































