Kebakaran Lahan, PT IKPP: Kalau Kami Bakar Lahan Berarti Bunuh Diri

Kebakaran Lahan, PT IKPP: Kalau Kami Bakar Lahan Berarti Bunuh Diri

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Rabu, 09 Sep 2015 18:44 WIB
Kebakaran Lahan, PT IKPP: Kalau Kami Bakar Lahan Berarti Bunuh Diri
Foto: Dok BMKG Pekanbaru
Pekanbaru - Setiap Riau dilanda kebakaran hutan dan lahan, maka selalu ada muncul isu negatif pemilik konsesi hutan tanaman idustri ikut terlibat. Padahal, satu sisi perusahaan industri kertas membutuhkan bahan baku kayu.

PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) milik Sinar Mas Grup berada di Kecsamatan Perawang, Kabupaten Siak. Perusahaan ini juga termasuk yang kalang kabut turut memadamkan kebakaran lahan. Selaku pemilik konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang ditanami pohon aksia itu tak mau lahannya turut terbakar.

"Jika pun ada tudingan bahwa Sinar Mas dalam menjalankan usaha HTI-nya membakar, tudingan ini semua tidak benar dan tidak punya dasar dan tidak logika," kata Humas PT IKPP, Nurul Huda, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nurul menjelaskan,  sejak dulu tudingan tersebut tidak pernah  beranjak. Analogi sederhana, sambung Nurul,  seorang petani yang telah menanam padi untuk kebutuhan hidupnya tidak mungkin padi yang telah bersusah payah di tanam  lalu dibakar.

"Begitu juga bagi  kami. Membakar lahan sama saja perbuatan bunuh diri. Kalau HTI yang ditanam lalu dibakar, lantas bahan baku produksi bubur kertas  kami pakai apa?," kata Nurul.

Nurul menyebutkan, selaku perusahaan bergerak bidang HTI, tentulah sangat membutuhkan bahan baku kayu. " Jika pun dituding lagi membakar itu untuk pembersihan lahan, bagi kami  justru merugikan kalau membakar," kata Nurul.

Sejak tahun 1997 pihak perusahaan telah menerapkan kebijakan no burn policy (kebijakan tanpa bakar). Perusahaan  HTI memiliki sistem kerja pohon aksia di areal HTI duar panennya setiap 5 tahun sekali.

Hasil panen HTI di Indonesia, terang Nurul sangat berbeda dengan HTI yang ada di Eropa. Pohon kayu sebagai bahan baku di Eropa baru bisa dipanen setelah 16 tahun. Ini karena Eropa bukan daerah tropis. Itu artinya, sekali panen pohon kayu untuk dindustri kertas di Eropa sudah tiga kali panen di Indonesia.

"Namun dunia internasional selalu membawa isu kebakaran hutan ini yang tujuannya hanya persaingan bisnis. Ini kenapa selalu saja muncul isu negatif  terhadap kita," kata Nurul.

Dalam komitmen membantu pemerintah dalam  penanggulangan bencana asap, PT IKPP telah menerjunkan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang mencapai 800 orang lebih. Anggota MPA tersebut disebar ke sejumlah kabupaten untuk membantu penanggulangan bencana kebakaran lahan dan hutan.

Selama kabut asap, perusahaan ini juga berada di Posko Siaga Darurat di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Seluruh anggota MPA dikoordinasi ke Satgas untuk bisa ditempatkan sesuai kebutuhan dalam pemadaman jalur darat. Tak hanya anggota MPA, perusahaan ini juga menyumbang helikopternya untuk ikut melaksanakan water bombing.

"Tapi kebakaran saat ini, heli kita diperbantukan untuk melakukan pemadaman di Jambi. Sudah sebulan heli kita ada di sana," kata Nurul.

Selasa (8/9) kemarin, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia sebagian besar karena ulah manusia. Mereka sengaja membakar lahan untuk kepentingan korporasi atau kepentingan pribadi. Sementara Menteri LH Sitti Nurbaya menjelaskan kebakaran lahan disebabkan ulah perusahaan dan masyarakat.

(cha/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads