Ahok: Kalau Ada Bully di IPDN, Orang akan Bilang Usulan Saya Masuk Akal

Ahok: Kalau Ada Bully di IPDN, Orang akan Bilang Usulan Saya Masuk Akal

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Rabu, 09 Sep 2015 13:41 WIB
Ahok: Kalau Ada Bully di IPDN, Orang akan Bilang Usulan Saya Masuk Akal
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menyebut apa yang dia usulkan soal pembubaran IPDN bukan sekedar usul. Dia memberi usulan dengan alasan yang kuat. Sejarah kekerasan di kampus calon birokrat itu yang membuat Ahok miris.

"Saya sih berharap kalau ada bully-bully lagi di IPDN, kompak-kompakan dan nginjak-injak, orang akan bilang sama saya yang saya usul masuk akal," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2015).

Sebelumnya, Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Bestari Barus Bestari mengungkapkan dirinya kerap mendengar kekerasan yang terjadi di lingkungan IPDN. Dia berharap ada perubahan di lembaga itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya nggak paham betul soal isi perut IPDN, yang sering saya dengar justru mengenai kekerasan yang sering terjadi di lingkungan IPDN," kata Bestari.

IPDN sempat ramai dibicarakan publik karena kasus kekerasn yang membuat calon mahasiswanya meninggal. Dari tahun 1993-2007 diperkirakan ada 35 orang yang tewas akibat diduga akibat perlakuan tidak layak dari senior kepada junior. Namun dari total praja yang tewas, hanya 10 kasus saja yang terungkap di media massa.

Berikut ini daftar praja yang meninggal tidak wajar di IPDN dari hasil riset yang dilakukan dosen IPDN Inu Kencana pada tahun 2007 lalu:

Tahun 1994, Madya Praja gatot dari Kontingen Jatim yang meninggal ketika menjalani pelatihan dasar militer dan dadanya retak.

Tahun 1995, Alvian dari Lampung meninggal di barak tanpa sebab.

Tahun 1997, Fahrudin dari Jateng meninggal di barak tanpa sebab.

Tahun 1999, Edi meninggal dengan dalih sedang belajar sepeda motor di lingkungan kampus.

Tahun 2000, Obed dari Irian Jaya meninggal dengan dada retak.

Tahun 2000, Heru Rahman dari Jabar meninggal akibat tindak kekerasan, kasusnya sempat menjadi bahan berita. Kasusnya dilimpahkan di pengadilan.

Tahun 2000, Utari meninggal karena aborsi dan mayatnya ditemukan di Cimahi.

Tahun 2003, Wahyu Hidayat yang juga ramai diberitakan meninggal karena tindak kekerasan. Kasusnya dilimpahkan ke pengadilan.

Tahun 2005, Irsan Ibo meninggal karena dugaan narkoba.

Setelah 2007, kasus kematian praja IPDN kembali muncul di tahun 2012. Yudhi Wardhana Siregar meninggal karena sakit di bagian otak.

Tahun 2013, Yonoli Untajana tewas saat mengikuti kegiatan pra-Resimen Mahasiswa (Menwa) saat pelatihan di kolam kampus IPDN, Ramboken, Minahasa, Sulut. (aws/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads