Pabrik bubur dan kertas PT RAPP berpusat di Pangkalan Kerinci Ibukota Kabupaten Pelalawan, Riau. Selaku pemegang izin hutan tanaman industri (HTI) seluas 338.536 hektare perusahaan ini kerap dihantui soal kebakaran hutan. Areal HTI merupakan penanaman pohon aksia untuk kebutuhan pasokan baban baku kertas.
Konsesi HTI perusahaan ini, juga kerap menerima rembetan api dari kebakaran lahan dan hutan. Bisa jadi, sekitar kawasan HTI yang berbatasan dengan lahan masyarakat sering terjadi kebakaran. Api menjalar bisa lewat rembetan, atau juga bisa bunga api terbang di bawa angin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sangat serius dalam penanganan kebakaran di areal konsesi kita. Karena kalau lahan kita kena rembetan api, tentulah kita yang merasakan kerugian itu," kata Community Development & Stakeholder Relations Head, PT RAPP, Wan Mohd Jakh Anza, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/9/2015).
Dengan peralatan yang dimiliki itu, maka pihak PT RAPP akan lebih mudah memantau munculnya titik panas di dalam konsesi atau di sekitar konsesi. Bila muncul titik panas, maka tim akan segera diterjunkan untuk menuju titik lokasi tersebut.
"Titik panas belum tentu titik api. Namun begitu muncul di layar monitor kita, tim langsung bergerak. Karena masing-masing sektor di wilayah kita sudah ada petugasnya," kata Wan Jakh.
![]() |
"Upaya pemadaman darat langsung kita lakukan. Ada yang sudah ahlinya melihat mana kepala api dan mana bagian ekor api. Dari posisi itulah nanti akan dilakukan pemadaman mana yang harus didahulukan dan daerah mana yang harus disekat agar api tidak menjalar," Wan Jakh.
Kalaupun sempat terjadi kebakaran, paling banter luasan HTI yang terbakar maksimal 3 hektare. Sistem pemantauan titik panas yang dimiliki perusahaan ini tidak dimiliki pihak Pemprov Riau apalagi tingkat kabupaten. Perusahaan melakukan pemantauan soal titik panas dalam hitungan 24 jam.
Selain memiliki teknologi pemantauan kebakaran lahan, perusahaan ini juga menggandeng sejumlah desa yang ada di sekitarnya. Pada Juli lalu, perusahaan kertas di bawah naungan APRIL, ini membuat kerjasama dengan 9 desa.
Pihak perusahaan akan memberikan kompensasi Rp100 juta bagi desa yang tidak melakukan pembakaran lahan. Tenggat waktu desa zero titik api, terhitung Juli hingga Oktober sebagai puncak kemarau di Riau.
Tak sekedar dana kompensasi yang diberikan bagi desa yang tanpa titik api, pembinaan sosialisasi juga dilakukan. PT RAPP merekrut kru dari masing-masing desa yang berfungsi menjembati antara perusahaan dengan masyarakat.
"Kru itu akan bertugas menjembatani apa yang dibutuhkan masyarakat dalam pengelolaan lahannya. Kita tak hanya sekedar melarang membakar, tanpa harus memberikan solusinya," kata Wan Jakh.
![]() |
"Dari sana kru yang sudah kita bina segera melaporkan adanya titik api. Tim langsung kita terjunkan. Luasannya hanya 2 hektare dan langsung kita padamkan," kata Wan Jakh.
Pihak perusahaan dalam bekerjasama dengan masyarakat desa dan aparat pemerintah, juga menjembatani apa yang diinginkan warga. Misalnya, ingin membuka lahan perkebunan sawit. Maka perusahaan membantu meminjamkan alat berat untuk membersihkan lahan warga.
"Kita berikan bantuan alat berat agar warga buka lahan tanpa harus dibakar. Dan ini efektif sekali," kata Wan Jakh.
Bila merujuk dari tahun-tahun sebelumnya, kata Wan Jakh, 9 desa tersebut selama ini merupakan salah satu daerah penyumbang asap terbesar. Namun kini desa tersebut 80 persen tidak ada lagi titik api. Masih ada memang desa yang ditemukan titik api, namun umumnya merupakan api rembatan, bukan unsur kesengajaan.
"Dulunya, setiap desa terjadi kebakaran lahan minimal 200 hektare, malah ada yang sampai 400 hektare. Metode pendekatan yang kita lakukan alhamdulillah memberikan solusi bersama tanpa harus membuka lahan dengan sistem dibakar," kata Wan Jakh.
Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1994 silam itu, menurut Wan Jakh sejak awal sudah menerapkan kebijakan pengelolaan lahan tanpa bakar. Meski demikian, kebakaran yang dipicu pihak lain dan merembet ke lahan HTI, perusahaan kehilangan asetnya berupa tanaman industri sebanyak 140 juta dolar sejak tahun 2009.
"Kami juga punya 630 relawan masyarakat peduli api yang kita bina. Semua ini demi menyelamatkan aset perusahaan serta demi Riau tanpa asap," tutup Wan Jakh. (cha/try)













































