Dengan diturunkannya status Gunung Slamet yang mempunyai ketinggian 3.428 Mdpl, pendakian ke puncak Slamet melalui jalur pendakian Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, akan segera dibuka kembali.
"Kami telah menerima pemberitahuan lisan melalui kontak telepon dengan Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet PVMBG Pemalang, Sudrajat, yang menyatakan status Gunung Slamet sudah normal," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinbudparpora Purbalingga, Prayitno, Selasa (8/9/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan, animo untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet sangat besar. Sejak peringatan HUT RI bulan Agustus lalu, banyak pendaki yang berdatangan ke pos Bambangan. Karena statusnya masih waspada, maka pihak Dinbudparpora selaku pengelola pos pendakian Bambangan, tidak mengizinkan mereka untuk mendaki.
"Saat itu, kami tidak berani mengambil resiko untuk mengizinkan pendakian, kami tetap mengacu pada himbauan PVMBG demi keselamatan para pendaki," ujarnya.
Dampak yang ditimbulkan akibat penutupan jalur pendakian Gunung Slamet secara ekonomi tidak saja hanya pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) saja, namun aktivitas ekonomi warga yang mengandalkan berjualan dari para pendaki juga tidak mendapat penghasilan apapun. Biasanya, kedatangan para pendaki atau wisatawan akan membuat warung makan di sekitar pos Bambangan ramai. Begitu pula dengan penitipan kendaraan sepeda motor atau mobil.
"Praktis, warga yang biasanya berjualan makanan, sudah hampir satu tahun lebih tutup dan memilih untuk bertani dan sebagian lainnya bekerja serabutan," jelasnya.
Pendakian Gunung Slamet sendiri mulai ditutup pada 10 Maret 2014. Saat itu PVMBG menaikan status gunung dari Level I (normal) ke level II (Waspada). Kemudian pada 30 April 2014 status gunung naik menjadi Level III (Siaga), dan pada 12 Mei 2014 diturunkan kembali menjadi Level II. Lagi-lagi pada 12 Agustus 2014 tingkat aktivitas Gunung Slamet dinaikan kembali menjadi Level III. Status Gunung Slamet kembali ke Level II (Waspada) mulai 5 Januari 2015 hingga saat ini.
"Dengan penutupan sejak Maret 2014, praktis target PAD tahun itu sebesar 10 juta tidak terpenuhi. Sejak Januari 2014 hingga hari penutupan 10 Maret 2014, hanya mendapat pendapatan Rp. 3.424.000,-. atau setara dengan sekitar 856 pendaki yang naik para periode itu. Sementara target Rp 14 juta untuk tahun 2015 ini juga belum satu rupiahpun ada pemasukan," ungkapnya.
(arb/jor)











































