Rasa Sedih Megawati Saat Kenang Pengalaman Jadi Relawan Museum

Rasa Sedih Megawati Saat Kenang Pengalaman Jadi Relawan Museum

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Rabu, 09 Sep 2015 01:39 WIB
Rasa Sedih Megawati Saat Kenang Pengalaman Jadi Relawan Museum
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Megawati Soekarnoputri bercerita pengalamannya saat menjadi seorang sukarelawan museum. Karya seni seperti manuskrip kuno Indonesia malah dijaga dan dirawat oleh orang luar negeri.

"Dulu saya sempat menjadi relawan museum. Dari 20 orang yang ikut hanya 2 orang Indonesia, termasuk saya, sisanya orang asing dari berbagai kedutaan," ucap Megawati saat berpidati di acara pameran 'Java Script' di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2015).

Ketua Umum PDIP ini bercerita, saat itu dirinya merasa semakin sedih melihat banyak karya seni khususnya aksara tulisan yang berserakan tidak terawat. Hal luar biasa justru dilakukan oleh bangsa asing yang merawat dan menjaga tiap lembar manuskrip kuno dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sungguh ironi, melihat banyak manuskrip, aksara tulisan justru dijaga dan dirawat oleh orang asing. Ketika melihat manuskrip kuno mereka mengatakan 'wow amazing' sedangkan kita hanya bisa berpangku tangan melihatnya," tutur Presiden RI kelima itu.

Rasa sedih dan jengkelnya pun makin menjadi ketika ingin belajar membaca stenografi. Namun dia tidak menemukan guru asli Indonesia yang bisa mengajarinya, malah menemukan guru orang asing yang mengajarinya membaca stenografi aksara Jawa.

"Kadang jengkel kenapa selalu orang asing yang bisa mempelajari stenografi, padahal tahun 50-an masih banyak yang mempergunakannya. Kemana bangsa kita," katanya.

Menurutnya dulu ketika ia menjabat Presiden RI kelima, dirinya sempat berkomunikasi baik dengan pemerintah Belanda untuk mengembalikan karya seni dan budaya yang berhubungan dengan Indonesia. Namun sayang hubungan tersebut tidak dilanjutkan di periode berikutnya.

"Padahal tidak sedikit karya asli Indonesia yang dibawa ke Belanda. Bahkan sekarang untuk melihat kembali manuskrip kuno Indonesia, kita harus sampai minta izin negara asing untuk melakukan penelitian, sangat sedih rasanya," pungkasnya.

Megawati saat hadiri pameran manuskrip kuno


(jor/jor)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini