Bukan sekali ini saja Partini bertandang ke Markas Polda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman Kavling 55, Jakarta Selatan. Wanita berjilbab ini mungkin sudah puluhan tahun. Sebab, seorang polwan, AKBP Yulia yang berdinas di Polda Metro Jaya sejak tahun 1999 itu, sudah melihat Partini di kantor polisi tersebut.
"Saya dinas di Polda sejak pangkat Letnan, itu dia sudah ada di sini," kisah Yulia, kepada detikcom, Selasa (8/9/2015).
![]() |
Yulia pertama kali bertemu Partini, karena Partini sering 'nongkrong' di Balai Wartawan Polda Metro yang saat itu menyatu dengan ruangan Humas Polda Metro Jaya. Polisi-polisi yang berkantor di Humas Polda Metro Jaya bahkan sering memberinya makan dan uang karena merasa iba dengan Partini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun apa yang membuat Partini terus-terusan datang ke Polda Metro, tidak ada yang tahu persis. Partini juga kadang muncul di sejumlah aksi demo di DPR dan kawasan Istana Negara, Jakarta Pusat. Dia tidak ikut demo, tetapi hanya menonton saja.
"Dia ini unik. Kalau ada demo suka datang. Kadang suka nyatet-nyatet di kertas," imbuhnya.
Wanita dengan ingatan yang terganggu ini, sering kali tidak nyambung saat diajak komunikasi. Bicaranya sering melantur, membahas nama-nama tokoh politik dan keluarganya, anggota polisi, hingga TNI.
"Dia kalau ditanya soal suaminya suka marah," katanya.
Karena sering berkeliaran di jalan, tidak jarang juga Partini tertangkap razia Dinas Sosial. Dan berbulan-bulan, kadang sampai setahunan, Partini tidak nampak di Polda Metro Jaya hingga membuat para wartawan senior 'kehilangan'.
"Ada yang ngisuin dia meninggal, eh tahunya dia ada lagi di Polda, tahunya ketangkep Dinas Sosial," cetusnya.
Anak Pengusaha di Banjarmasin
Tidak ada identitas yang dibawa Partini. Dia hanya membawa tas yang berisi sejumlah lembaran kertas berisi coretan tangan dan juga ketikan komputer. Partini mengaku sebagai nabi ke-26 itu.
Di mana Partini tinggal pun, tidak ada yang tahu. Namun, beberapa wartawan senior yang pernah mengikutinya, Partini sering turun dari taksi atau Metro Mini, di Jl Sriwijaya, Jakarta Selatan. Tapi tidak pernah ada yang tahu, ke mana Partini pergi setibanya di Jl Sriwijaya itu.
Yulia yang pernah memeriksa catatan-catatan tangan Partini, pernah menemukan sebuah nomor telepon. Kepada Yulia, Partini mengaku jika nomor telepon tersebut adalah milik anaknya yang bernama Wawan.
"Saya coba hubungi nomor telepon itu, benar tidak itu anaknya. Karena saya juga berpikir, kasihan sudah tua tidak ada yang mengurus, keliaran di jalan," ucapnya.
Yulia kemudian menghubungi nomor tersebut, mencoba mengkonfirmasi apakah betul si empunya nomor tersebut adalah anak Partini. Si empunya nomor telepon itu membenarkan jika ia adalah anak dari Partini. Wawan kemudian menceritakan kisah Partini.
"Anaknya itu pengusaha rotan di Banjarmasin. Menurut anaknya, mereka sudah pernah membawa Partini balik ke Kalimantan, tetapi dia (Partini) balik lagi ke Jakarta. Anaknya juga sudah pernah membawa Partini untuk terapi kejiwaan, tetapi selalu kabur," jelasnya.
Di mata sang anak, Partini adalah wanita cerdas, dulunya. "Kata anaknya, Partini itu dulunya aktivis, dia ikut organisasi apa gitu saya enggak tahulah," cetusnya.
Dari percakapan Yulia dengan anak Partini ini, terkuak ihwal Partini hilang ingatan. Keretakan rumah tangga dengan suaminyalah yang menjadi penyebabnya. "Kata anaknya, dia cerai sama suaminya karena suaminya punya pacar lagi dan menikah sama pacarnya itu. Setelah itu jadi pikiran,"urainya.
Sekarang, Partini kembali lagi ke Polda Metro Jaya setelah setahunan tidak nampak. Ia hanya membawa biskuit, air mineral, sikat gigi dan sejumlah kertas berikut amplop besar warna merah. Partini tampak tidak terawat. Partini juga sering sakit-sakitan. Kasihan, Partini.
(mei/dra)












































