"Alasan dukungan bergabungnya PAN akan memperkuat dan mempermudah pemerintah menjalankan kebijakan. Pemerintah yang kuat akan menjamin stabilitas politik yang saat ini dibutuhkan untuk recovery kondisi ekonomi," ujar peneliti LSI Ruli Akbar di kantor LSI, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (8/9/2015).
Ruli menjelaskan, sebanyak 64,41 persen alasan publik mendukung langkah PAN lantaran masalah ekonomi Indonesia yang perlu diperkuat. Kemudian, sebanyak 15,25 persen publik beralasan PAN dan pemerintah sama-sama diuntungkan dan sebanyak 10,17 persen publik menilai KIH dan KMP sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, ada juga yang tidak mendukung langkah PAN bergabung dengan pemerintahan. Mereka yang tidak mendukung menilai PAN hanya mengejar kepentingan sendiri.
"Alasan yang tidak mendukung langkah PAN menganggap PAN hanya mengejar kepentingannya sendiri. Sebanyak 30,10 persen pemilih memilih alasan tersebut," terangnya.
Kemudian, PAN juga dinilai telah menunjukkan tradisi buruk bagi oposisi dan telah mengkhianati koalisi di KMP. "Jika sebelumnya ada partai yang menyatakan oposisi terus berbelok haluan ditengah perjalanan menjadi partai koalisi pemerintahan maka ini akan merusak tradisi oposisi dan sikap tersebut menunjukkan PAN dinilai menghianati komitmennya bersama KMP," paparnya. (tfn/tor)











































