Konferensi yang digelar di Ballroom Hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (8/9/2015) ini diikuti oleh 16 Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK), dan para guru dari 7 provinsi. Mereka merupakan mitra dari USAID PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation, and Oppurtunities for Reaching Indonesias Teachers, Administrators, and Students).
"PTK adalah penelitian praktis yang dilakukan guru atau praktisi pendidikan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas," ujar Dosen UNY Prof.Hari Amirullah.
"Seorang dosen ketika mengajarkan PTK kepada guru, dosen harus membaca Kemenpan no.16 tahun 2009. Selama ini pengalaman saya menilai banyak guru yang tak memenuhi semacam pendahuluan tidak ada lampiran. Itu akan disalahkan," lanjutnya.
Salah satu sekolah yang telah menerapkan sistem PTK adalah SD Kalibanteng Kidul 01 Semarang, Jawa Tengah. Menurut Musrian, guru kelas V yang menerapkan PTK di sekolah tersebut, dirinya berhasil memecahkan masalah pembelajaran pada siswa dalam menulis karangan narasi.
"Saya bersama dosen UNNES, Petra Kristi Mulyani dapat meningkatkan keterampilan siswa melalui PTK dalam menulis karangan narasi. Sebelumnya hanya 5% siswa yang terampil menulis karangan, setelah pelaksanaan PTK meningkat jadi 77,5% siswa," kata Musrian.
Hasil dari pengamatan pra pelaksanaan PTK menunjukkan bahwa 40 siswa kelas V SD Kalibanteng Kidul 01 Semarang, Jawa Tengah mengalami kesulitan dalam menulis karangan narasi tersebut. Mayoritas siswanya masih sulit membuat karangan panjang dan sulit menuangkan ide dalam bentuk tulisan.
"Keterampilan siswa dalam menulis diperlukan sejak pendidikan dasar. Hal itu untuk menunjang keberhasilan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia serta mata pelajaran lainnya" ucap Musrian.
Penelitian tersebut dilakukan dalam dua siklus dengan indikator keberhasilan 70%. Tindakan pada siklus yang pertama dalam menulis karangan narasi level terampil, menghasilkan 37,5%.
"Tindakan pada siklus kedua menghasilkan 77,5% siswa dapat menulis karangan narasi minimal pada level terampil, dan 22,5 lagi pada tahap berkembang," terangnya.
Dapat disimpulkan, tambah Musrian, hasil siklus kedua ini jika guru memberi contoh yang nyata dan benar, siswa dapat memperoleh pemahaman dan keterampilan menulis. Dan itu dapat membuat karangan yang baik dan memuaskan. (yds/mad)











































