KPU Beberkan Data Pilkada di Rapat, PDIP Masih Belum Puas

KPU Beberkan Data Pilkada di Rapat, PDIP Masih Belum Puas

Indah Mutiara Kami - detikNews
Senin, 07 Sep 2015 16:44 WIB
KPU Beberkan Data Pilkada di Rapat, PDIP Masih Belum Puas
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - KPU menjabarkan data-data hasil penetapan calon peserta Pilkada 2015 dalam rapat bersama Komisi II DPR. Hanya saja, pemaparan itu ternyata belum bisa memuaskan anggota dari F-PDIP.

"Laporan ini tidak detil dan lengkap, bisa menimbulkan tafsir yang berbeda. Ini tidak bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan penting yang kita ajukan," kata anggota F-PDIP Arif Wibowo dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2015).

Arif mengutip data tentang latar belakang dari para calon yang dianggap kurang lengkap. Dia mencontohkan di Kabupaten Jember, jumlah PNS yang mencalonkan diri sebenarnya lebih banyak daripada jumlah yang ada di laporan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Kabupaten Jember, ada yang semua calon PNS tapi tidak disebutkan di sini. Apa ini keterbatasan KPU, atau ada kesulitan?" ungkapnya.

Menurut Arif, data yang tidak tersedia secara lengkap adalah gambaran KPU daerah tidak sepenuhnya siap. "Atau bahkan ketidakmampuan KPU pusat dalam mengendalikan," imbuhnya.

Kritik serupa juga datang dari anggota F-PDIP lainnya yaitu Arteria Dahlan. Dia menganggap laporan yang disampaikan KPU tidak menjawab pertanyaan anggota di rapat sebelumnya pada Selasa (1/9).

"Seharusnya KPU bisa lebih jelas dan dapat menjelaskan dengan baik. Seluruh laporan yang diberikan hanya normatif saja," ucapnya.

Dalam laporan secara lisan, KPU memang hanya menjelaskan gambaran umumnya saja, yang dirinci hanya tentang latar belakang calon sesuai permintaan anggota Komisi II. Ketua KPU Husni Kamil Manik menegaskan bahwa rincian sudah ada di laporan yang diserahkan ke anggota DPR.

"Sebenarnya, jika tadi mendengarkan, saya sudah berikan seluruh jawaban dari pertanyaan DPR. Ada di beberapa poin yang kami masukkan. Hanya saja tadi saya meminta izin untuk tidak dibacakan karena terlalu banyak," kata Husni. (imk/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads