Pada tahun 2013 kepulan asap dari Riau tercium sampai negara tetangga, yakni; Singapura dan Malaysia. Asap diduga berasal dari kebakaran hutan di 265 titik di kepulauan Riau dan sekitarnya.
Tak ayal akibat kepulan asap tersebut hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia maupun Singapura sempat menegang. Kedua negara itu menuntut Indonesia lebih giat lagi menghentikan kabut asap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana, SBY memerintahkan segera mengambil langkah-langkah untuk menghentikan kebakaran hutan di Riau. Langkah yang diambil BNPB antara lain; mempersiapkan hujan buatan untuk menghentikan kebakaran hutan Riau.
Dua pesawat Casa 212, yaitu pesawat TNI AU dari Lanud Halim Perdanakusumah dan pesawat BPPT yang berada di Banjarmasin, telah diterbangkan ke Pekanbaru, Riau. Ada juga pesawat Hercules C-130 TNI AU dari Lanud Husein Sastranegara Bandung dan dua helikopter untuk water bombing.
Semua pesawat itu dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan di Riau. Pemadaman api lahan dan hutan dilakukan melalui darat, udara, melalui water bombing dengan menggunakan helikopter, dan hujan buatan dengan menggunakan pesawat terbang. Kabut asap pun perlahan mulai teratasi.
Tahun 2014 bencana kabut asap kembali melanda Riau. Kali ini kemarahan akibat asap tak lagi datang dari negera tetangga, melainkan dari masyarakat Indonesia. Salah satunya disampaikan melalui media sosial seperti; Facebook dan Twitter.
Presiden SBY bahkan menyebut dalam satu waktu ada 9000 postingan netizen yang berisi kemarahan akibat asap Riau. Tak hanya masyarakat, SBY pun juga mengaku kesal dengan bencana asap akibat kebakaran hutan tersebut.
Apalagi ada dugaan penyebab kabut asap di Riau adalah hutan yang sengaja dibakar, bukan akibat cuaca ekstrem. "Sebagian besar (hutan) sengaja dibakar," kata SBY di depan sejumlah kepala daerah dan pimpinan perusahaan di kediaman Gubernur Riau, Minggu, 16 Maret 2014 lalu.
Kembali, SBY memerintahkan agar bencana asap di Riau dan Pulau Sumatera segera diatasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk sementara bencana asap bisa teratasi.
Namun lagi-lagi, tahun ini kembali bencana asap kembali terjadi di Riau. Hari ini, kabut asap begitu pekat menyelimuti Pekanbaru, Riau. Bahkan jarak pandang tak lebih dari 50 Meter. Mata terasa pedih, bau kebakaran lahan menyengat di hidung.
Pemprov Riau, lewat BPBD menyebutkan bahwa asap yang cukup parah pagi ini diduga kiriman dari Sumsel dan Jambi. "Kami Satgas tetap berusaha dan bersemangat dalam tugas. Info yang kami terima dari BMKG, asap saat ini kiriman dari provinsi tetangga," kata Kepala BMKG Riau, Edwar Sanger kepada detikcom.
Data BMKG menyebut untuk wilayah Sumatera, hari ini terdeteksi 413 titik panas. Titik panas itu menyebar di sejumlah provinsi.
Di Riau ada titik panas 45, Jambi 110, Lampung 31, Sumsel 79, Kepri 2, Babel 77. Bengkulu 5. Kondisi asap yang kian parah, Pemprov Riau belum juga meningkatkan status dari Siaga menjadi Tanggap Darurat.
Hari Minggu kemarin, Presiden Joko Widodo bersama Sekjen Kementerian LHK, Kepala BNPB Syamsul Maarif, Memteri PUPR Basuki Hadimuljono, Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Bupati Ogan Komering Ilir Iskandar, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo terjun langsung ke salah satu titik api di Pulau Sumatera.
Akankah Jokowi memiliki cara mujarab mengatasi bencana asap di Pulau Sumatera yang selalu berulang setiap tahun?
(erd/try)











































