Sudah sepekan, dunia pendidikan di Riau lumpuh. Ada 7 kabupaten serentak meliburkan aktivitas belajar mengajar karena kabut asap. Silih berganti masing-masing kabupaten mengambil kebijakan untuk meliburkan sekolah.
Pemerintah Riau memberikan kewenangan penuh kepada masing-masing sekolah. Bila dirasakan asap pekat, dipersilakan meliburkan, kalau asap menipis sekolah kembali dibuka. Begitulah situasinya, di mana sekolah menjadi penanggung jawab soal memutuskan libur atau tidaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dua anak saya sekolah di SMP dan SMA, sejak diliburkan ya enak juga saya tak perlu bangun pagi mengantarkan mereka ke sekolah," celetuk Asnil (45) warga Pekanbaru sembari tersenyum, Minggu (6/9/2015).
Berbeda lagi pengakuan Mukmin siswa SMP 8 Pekanbaru. Menurutnya, sekolahnya diliburkan sejak kabut asap dalam sepekan ini.
"Waktu diumumkan lewat pengeras suara bahwa sekolah libur, spontan semua teriak horee. Kayaknya kami semua kesenangan diliburkan," kata Mukmin sambil mesam mesem.
Walau demikian, meliburkan sekolah ini juga menjadi pro kontra di tengah masyarakat. Ada yang mendukung dengan alasan demi kesehatan, ada yang tidak dengan alasan akan tertinggal mata pelajaran.
"Buat saya lebih baik sekolah saja, di rumah juga banyak asap. Kalau sudah diliburkan, anak-anak juga kerjanya main ke sana kemari," kata Amrul Anwar (40) warga Pekanbaru.
Begitupun ada juga warga yang memanfaatkan libur untuk pulang kampung halamannya.
"Istri dan anak saya sejak diumumkan libur sekolah, mereka pulang ke Medan. Walau di sana tetap ada asap, namun tidak separah di Pekanbaru," timpah Syamsul Siregar (46) warga lainnya. (cha/mad)











































