"Terakhir waktu Hari Konstitusi (Megawati) goda Pak Zul, silakan bergabung," ujar anggota DPR RI dari PDIP Masinton Pasaribu dalam diskusi bertema 'Plin-PAN' di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (5/9/2015) kemarin.
Tak dipungkiri restu dari Megawati jadi salah satu prasyarat parpol bisa bergabung dengan pemerintahan. Semua parpol Koalisi Indonesia Hebat juga melakukan lobi intensif menjelang Pilpres 2014 silam, sampai kini mereka juga masih terus menggelar pertemuan rutin dengan Presiden Jokowi dan Megawati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti saat KMP mendominasi voting dalam pimpinan DPR serta MPR. Mega mengakui bila dikalkulasikan seperti awal maka kekuatan suara KMP lebih kuat di parlemen.
"Saya bilang, so what. Karena kalau voting pasti menang KMP. Tapi apakah itu arti dari kemerdekaan kita? Apakah itu yang sebenarnya terjadi dalam sebuah republik yang sudah merdeka 70 tahun ini? Jadi bagi saya, tak ada artinya," sebutnya.
Setelah itu Mega melempar candaan yang bernuansa melobi Ketua MPR Zulkifli Hasan yang notabene Ketua Umum PAN. Dia ingin Zulkifli serta PAN bergabung dengan KIH agar bisa memperkuat posisi KIH di parlemen.
"Saya bilang sama Pak Zul, masuklah ke PDI Perjuangan, supaya karena kalau voting menang. Karena Bapak kan setuju MPR menjadi lembaga tertinggi. (Tapi) itu adalah politik praktis," sebut Mega. Mendengar pernyataan Mega, hadirin yang berada di ruangan Nusantara IV langsung tertawa.
Megawati memang seolah ikut melobi dan berperan di balik masuknya PAN ke pemerintahan. Namun tentu saja ada deal-deal rahasia antara PAN dengan Jokowi, termasuk isu santer bakal ada reshuffle kabinet jilid II untuk mengakomodir PAN di kabinet kerja. Kapan pastinya? Tunggu tanggal mainnya. (van/nrl)











































