dr Mardiana (45) merupakan salah satu contoh korban dari kabut asap. Dokter umum lulusan Univeristas Sumatera Utara (USU) ini gagal mengikuti seminar kesehatan di Yogyakarta. Padahal, seharusnya dokter di RS Eka Hospital Pekanbaru ini mengikuti seminar pada Rabu (2/9) lalu.
"Saya tidak bisa mengikuti seminar kesehatan itu di Yogyakarta. Karena pesawat saya batal terbang, karena kabut asap," cerita dokter Ana begitu sapaan akrabnya Mardiana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah menunggu selama 6 jam, baru pihak maskapai memberitahukan batal keberangkatan karena pesawat dari Jakarta tak bisa mendarat. Dokter Ana akhirnya berharap esok harinya, Kamisย (3/9) pesawat masih bisa membawanya ke Yogyakarta.
"Tapi sudah dua hari juga batal. Ya sudah akhirnya saya tidak bisa mengikuti seminar itu. Padahal itu penting buat kami yang dokter ini," kata Ana.
Berbeda lagi pengalaman, Rony Handaya (45) warga Kabupaten Kampar, Riau. Pria ini baru siang tadi, Sabtu (5/9/2015)ย mendarat dari Bandara Soekarno Hatta. Padahal seharusnya kemarin sudah kembali dari Jakarta ke Pekanbaru.
"Kemarin gagal berangkat, terpaksa saya mengeluarkan dana untuk penginapan di Bandara Soetta. Inikan sangat merugikan. Baru sore tadi saya bisa kembali," kata Rony.
Rony masih menyebutkan, bahwa temannya dari Bandung tujuan Pekanbaru juga mengalami yang sama. Pesawat AirAsia dari Bandung tujuan Pekanbaru terpaksa mendarat ke Kuala Lumpur Malaysia.
"Menunggu beberapa jam dengan harapan kabut asap semakin menipis ternyata tidak juga. Akhirnya pesawat itu kembali ke Bandung," kisah Rony. (cha/Hbb)











































