Bau harum masakan sudah tercium dari pinggir jalan, wanginya seperti roti yang fresh from the oven. Seorang chef lalu menyapa tim pengawas katering dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (2015) yang setiap pagi meninjau persiapan makan siang jemaah.
"Selamat datang," ujar Hadi Budiana Ramdhan yang ternyata berasal dari Cianjur, Sabtu (5/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Dalam jamuan sarapan sederhana, Hadi mengatakan di katering Al Hussam ada 4 orang koki asal Indonesia untuk menjaga citarasa Tanah Air. Mereka juga dibantu oleh koki negara lain yang paham masakan asia.
"Masak mulai jam 22 sehari sebelumnya. Jam 7 mulai distribusi. Orang yang terlibat katering Indonesia packing 40-45 orang, nasi 20 orang, sayuran 20 orang," kata Hadi.
Saat tim dari PPIH tiba sekitar pukul 05.45 waktu setempat, katering untuk jemaah Indonesia sudah selesai diproduksi dan didistribusikan. Al Hussam sedang menyiapkan katering untuk jemaah haji asal Malaysia.
Ditemani 2 koki asal Mesir, Hadi mengajak tim dari PPIH melihat dapur utama, tempat proses pembuatan menggoreng ayam/ikan beserta sausnya dan sayur. Semua dilakukan dalam satu ruangan dengan menggunakan wajan dan panci berukuran sangat besar.
![]() |
Di ruangan lainnya adalah pengolahan dari beras menjadi nasi. Beras dengan kondisi terendam air diletakkan dalam wadah besar lalu dimasukkan ke dalam mesin besar seperti oven. Ada sekurangnya 5 oven di sana, satu oven bisa menampung 10 wadah.
"Nasinya ini diliwet, bukan ditanak," tutur salah seorang anggota PPIH.
![]() |
Hadi juga mengajak tim dari PPIH ke tempat pengolahan bahan baku sayur. Di ruangan itu ada berkarung-karung kentang, bawang putih dan terong. Di situ terdapat mesin seperti bak besar untuk mencuci sayuran dalam skala besar.
Setelah melihat-lihat tempat ruangan pendingin tempat menyimpan sayuran/ buah, daging, ikan, dan ayam, Hadi lalu menunjukkan tempat pengepakan. Pengepakan dilakukan dengan mesin besar yang konon didatangkan dari Inggris dan berharga kurang lebih 1 juta riyal.
Wadah makanan yang sudah berisi nasi dan lain-lain diletakkan dalam jalur berjalan (conveyor belt) menuju mesin pengepakan. Mesih itu lalu menutup bagian atas wadah seperti yang dilakukan penjual minuman bubble drink sehingga wadah makan tidak tumpah walau diletakkan dalam posisi terbalik
Mesin itu bisa mengepak sampai 6.500 wadah per jam. Sebenarnya bisa lebih cepat lagi hingga 133 per menit atauย sekitar 8.000 wadah per jam asal tidak ada sayur berkuah yang bisa tumpah jika ada goyangan terlalu kencang.
"Jam 2 ke dapur, jam 10 ke sektor untuk survei tanggapan jemaah. Kemudian pulang lalu malamnya evaluasi," tutur Kepala Seksi Pengawas Katering Ahmad Abdullah Yunus yang menjelaskan tentang sistem kerja timnya.
Selama katering makan siang diberikan sejak 31 Agustus hingga hari ini, Abdullah mengaku tidak menemui kendala berarti. Pelayanan katering mencapai puncaknya ketika semua jemaah Indonesia tiba di Makkah dan bersiap untuk bergerak ke Armina.
Abdullah mengatakan saat ini pihaknya terus mengawasi proses katering karena pemberian makan siang di Makkah baru terjadi tahun ini. Sebelumnya katering diberikan hanya di Madinah dan puncak haji Arafah Mina.
"Kita tidak strict 100 persen karena ini baru yang pertama," ujar Abdullah menanggapi jika masih ada masakan yang tidak sesuai dengan citarasa Indonesia.
Jika ada perusahaan katering yang kesulitan mencari bahan baku, Abdillah menerangkan bisa membuat menu substitusi yang setara. Asalkan pihak katering menginformasikan soal hal tersebut sehari sebelumnya.
(gah/imk)














































