"Maaf saya nggak bisa kasih komentar," ujar Kepala Staf Presiden (KSP) Teten Masduki saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (5/9/2015) pagi.
Selain Setya dan Fadli, hadir dalam pertemuan itu antara lain Ketua Komisi III Aziz Syamsuddin, Wakil Ketua Komisi VII Satya Yudha dan utusan Presiden Eddy Pratomo. Mengenai Eddy sebagai utusan khusus Presiden bidang kemaritiman untuk memberi nasihat kepada delegasi DPR soal batas wilayah Indonesia-Malaysia yang turut hadir dalam jumpa pers kampanye Trump, Teten memastikan tidak ada kaitannya dengan pemerintah Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dikonfirmasi secara terpisah, Seskab Pramono Anung juga memastikan kehadiran Eddy dalam acara jumpa pers tersebut bukan sebagai kapasitas utusan Presiden Joko Widodo. "Bukan (sebagai utusan Presiden). Eddy Pratomo utusan Presiden untuk garis batas Malaysia dan Singapura. Tidak ada urusannya dengan Donald Trump," kata Pramono melalui pesan singkat kepada detikcom.
"Pak Eddy ke AS atas biaya sendiri karena pengajuan anggarannya tidak dapat dipenuhi karena tidak ada anggaran untuk kegiatan tersebut," tegasnya.
Rombongan delegasi Indonesia bertemu dengan Trump selama 30 menit lalu mengikuti konferensi pers. Dalam konferensi pers itu, Novanto sempat menyampaikan bahwa orang-orang Indonesia menyukai Trump.
Meski begitu, Fadli menjamin bahwa kehadiran mereka bukan sebagai bentuk dukungan. Dia dan Novanto diundang dan dijamu oleh Trump spontan, lalu dalam jumpa pers keduanya diperkenalkan ke publik Amerika.
"Ya enggak. Apa urusannya kita dengan Pilpres AS, punya suara juga tidak. Bagi kami, kami senang pada Presiden AS yang mau berteman dengan Indonesia. Seperti Obama adalah teman Indonesia, juga Trump sekarang sebagai pengusaha adalah teman Indonesia," ungkap Fadli dalam perbincangan, Jumat (4/9) lalu.
Rombongan tersebut ke Amerika Serikatย menghadiri sidang parlemen dunia ke-4 di New York. Sidang itu sendiri sudah selesai pada tanggal 2 September 2015 lalu. (aws/dha)











































