Ini Strategi Pelayanan Kesehatan bagi Jemaah Haji di Makkah

Haji 2015

Ini Strategi Pelayanan Kesehatan bagi Jemaah Haji di Makkah

Gagah Wijoseno - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2015 01:15 WIB
Ini Strategi Pelayanan Kesehatan bagi Jemaah Haji di Makkah
Foto: Gagah Wijoseno
Makkah - Sentral peribadatan haji perlahan mulai berpusat di kota Makkah. Makkah dibanjiri jemaah haji Indonesia yang datang dari Madinah maupun Jeddah.

Kondisi tubuh yang prima menjadi syarat mutlak untuk menjalani ibadah haji dan segala macam ibadah sunnah lainnya. Oleh karena itu peran tenaga kesehatan sangatlah penting. Dengan jumlah sumber daya manusia terbatas, tenaga kesehatan harus bisa mengkomodasi pelayanan 168.800 jemaah yang semua akan berkumpul di Makkah.

Strategi yang dilakukan oleh Tim Pelayanan Kesehatan adalah memanfaatkan pelayanan RS di Arab Saudi. Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah Thafsin Alfarizi mengatakan sudah menempatkan satu orang tenaga musiman (temus) yang selain berfungsi sebagai tenaga pendukung, dia juga berfungsi sebagai liaison officer (perwakilan Indonesia) di RS Arab Saudi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita menempatkan di 5 RS. Yaitu RS An-Nur, RS Zaher, RS Syisya, RS Ajyad, dan IGD BPHI," tutur pria yang akrab dipanggil dokter Al itu di Makkah (3/9/2015).

Bila ada jemaah yang butuh pertolongan cepat maka dia bisa dapat langsung dibawa ke RS Arab Saudi terdekat. Begitu juga bila ada kasus medis yang butuh penanganan intensif dan berkelanjutan.

"Jika rasa-rasanya tidak mungkin dirawat di klinik sektor atau di BPHI bisa langsung dibawa ke RS Arab Saudi. Kita ada yang standby 24 jam. Mereka dibagi 2 shift, dari jam 8 ke jam 8," kata dokter Al.

Satu layanan lainnya adalah membentuk klinik satelit kloter. Jemaah bisa melakukan konsultasi kesehatan tanpa perlu mengandalkan tenaga kesehatan di kloternya.

Klinik satelit ini dibuat di pemondokan yang ditempati lebih dari dua kloter jamaah haji Indonesia. Jika satu penginapan misalnya ditempati oleh  4 kloter, maka dibentuk klinik satelit kloter.

"Tenaga kesehatan berjaga 24 jam akan melayani jamaah selama 24 jam, lintas kloter. Jika tidak ada pasien, petugas kesehatan akan  melakukan visitasi dan upaya preventif – promotif. Ini langkah pencegahan supaya pemantauan kita lebih cepat. Klinik satelit itu seperti puskesmas pembantu, kloter itu seperti puskesmas, sedang BPHI seperti rumah sakit Kabupaten/Kota, dan RS Arab Saudi seperti rumah sakit provinsi," jelas dokter Al.

Saat ini sudah ada klinik satelit kloter di sektor 1 dan 4. Berikut ini letak-letak klinik satelit tersebut:

Sektor 1:
- Penginapan 101 di kamar 105
- Penginapan 102 di lantai M
- Penginapan 103 di lantai M
- Penginapan 104 (belum dibuka karena jemaah belum datang)
- Penginapan 105 di lantai M
- Penginapan 106 di lamar 117

Sektor 4:
- Penginapan 401 di lantai M
- Penginapan 403 di lantai 1
- Penginapan 405 di lantai 6
- Penginapan 407 di lantai 6
- Penginapan 408 di lantai M
- Penginapan 410 di lantai M

Terkait soal jemaah dari Madinah yang butuh ambulans tambahan karena kondisi kesehatannya tidak mumpuni, dokter Al sudah meminta kawan-kawan dari Makkah untuk mengerahkan beberapa ambulans ke Madinah. Dokter Al mengatakan jemaah dengan risiko tinggi (risti) jumlahnya sangat banyak.

"Akan kita bantu dengan ambulans kalau jemaah tidak mampu naik bus," katanya.

"Sampai dengan tanggal 2 September dari jemaah yang masuk ke Makkah ada 58 persen (risti-red)," tambahnya. (gah/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini