Partai Islam Berebut Massa Santri

Partai Islam Berebut Massa Santri

- detikNews
Sabtu, 26 Feb 2005 21:30 WIB
Solo - Masa depan partai berasas Islam tidak menutup kemungkinan akan semakin ditinggalkan pengikutnya karena tingkat kecerdasan politik rakyat yang semakin maju. Apalagi sesama partai Islam hanya saling berebut massa yang telah ada serta tidak mampu merebut massa yang bukan berasal dari luar kalangan santri.Pendapat tersebut mengemuka dalam seminar bertema 'Masa Depan Partai Islam' digelar di UMS, Solo, Sabtu (26/2/2005). Tokoh-tokoh yang menjadi pembicara adalah Pjs Ketum DPP PKB Mahfud MD, Ketua DPP PPP Arif Mudatdir Mandan, mantan Presiden DPP PKS yang juga Ketua MPR Hidayat Nurwahid, serta pengamat poltik UGM Heru Nugroho.Menurut Mahfud, tidak ada pertambahan jumlah dukungan bagi partai berasas Islam pada Pemilu 1999 dan 2004, yakni tetap 19 persen dari total pemilih. Yang terjadi, lanjut Mahfud, saling berebut massa antarsesama partai Islam. Pada Pemilu 2004, PKS mengalami lonjakan suara, namun suara itu berasal dari partai Islam lain yang kehilangan suara. Kenaikan suara PKS, juga bukan karena ciri keislamannya tetapi karena kemampuan mencitrakan diri dalam hal kesantunan dan integritas pemimpin dan politisinya.Hal senada dikatakan pengamat politik UGM Heru Nugroho. Dikatakan Heru, masyarakat pemilih semakin cerdas membedakan propaganda politik dengan realitas politik. Mereka akan meninggalkan simbol-simbol keagamaan yang dijual oleh partai-partai berbasis agama. Jika tidak ingin kehilangan suara, parpol berbasis Islam harus segera membumikan moral keagamaan.Sementara Arif Mudatsir menilai kemerosotan perolehan suara partai-partai Islam lebih dikarenakan tidak ada yang berupaya merangkul muslim non santri. Partai Islam cenderung menjadi inklusif dengan komunitasnya sendiri dan tidak berusaha mendekati dan mengajak muslim abangan untuk bergabung.Pendapat berbeda dilontarkan Hidayat Nurwahid. Menurut Hidayat, masa depan partai Islam sudah jelas terjamin karena dimungkinkan oleh UU yang mengatur, didukung oleh pemilih yang tetap ada serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai global. Tantangannya bagaimana partai-partai Islam itu mengisi masa depannya agar tetap dipercaya oleh konstituen."Jika tidak amanah maka partai itu akan dihukum rakyat. Hukuman itupun sebenarnya adalah juga bagian dari demokratisasi karena secara alami partai tersebut sudah tidak dimaui oleh konstituen yang akan memilih partai Islam lainnya yang lebih amanah," paparnya. (rif/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads