Pidato Politik dan Pantun Perpisahan Prabowo untuk PAN

Pidato Politik dan Pantun Perpisahan Prabowo untuk PAN

Indah Mutiara Kami - detikNews
Jumat, 04 Sep 2015 15:02 WIB
Pidato Politik dan Pantun Perpisahan Prabowo untuk PAN
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Setelah menghadiri pertemuan 'perpisahan' elite KMP dengan petinggi PAN, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto juga menghadiri pertemuan serupa di Kantor DPP PKS. Di kesempatan itu Prabowo memaparkan unek-uneknya tentang kondisi bangsa saat ini sampai kemudian PAN memutuskan bergabung dengan pemerintah.

"Pak Prabowo berpidato di DPP PKS. Terakhir ada pantunnya," kata Waketum Gerindra Edhi Prabowo kepada detikcom, Jumat (4/9/2015).

"Satu dua cempaka biru, tiga empat jalan cambangan. Kalau mendapat kawan yang baru, kawan lama dilupa jangan," demikian petikan pantun perpisahan Prabowo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketum PAN Zulkifli Hasan yang mendengarkan pidato Prabowo itu pun berjanji akan mengingat baik-baik pesan Prabowo.

"Pak Zul mengatakan akan menyimpan baik-baik untuk mengingatkan," kata Edhi.

Berikut transkrip pernyataan Prabowo Subianto di kantor DPP PKS, Kamis (3/9) malam.

Saya ingin gunakan kesempatan ini untuk bicara tentang rupiah, bicara tentang kedaulatan. Tentang kepemilikan. Rupiah akan kuat jika ekonomi negara kuat.

Kekuatan itu tentang kepemilikan. Kamu punya apa? Negara kita punya apa? Jika aktivitas ekonomi banyak, tetapi bukan milik negara, bukan milik warga negara, Indonesia tidak akan pernah bisa jadi negara kuat. Karena keuntungan ekonomi lari ke negara lain. Batu bara, tambang, dan sebagainya.

Jadi, pertumbuhan 5%/6% saya berani katakan, mau pertumbuhan 12% pun kalau kepemilikannya bukan di tangan bangsa Indonesia, tidak ada artinya.

Sebagai contoh, katakanlah perusahaan Astra. Perusahaan Astra nilainya sekarang, jika tidak salah, lebih dari 45 miliar dollar. Tetapi, pemiliknya adalah orang asing. Berarti, keuntungan itu mengalir ke luar negeri. Demikian pula dengan BCA, nilainya adalah 15 miliar dollar dan keuntungannya juga mengalir ke luar negeri, dan seterusnya.

Satu per satu aset itu bisa kita cek, sekarang Pak Zul kita bisa titip, jika apa yang diputuskan PAN memang benar untuk bangsa dan rakyat Indonesia ini harus dibicarakan, jangan pura-pura tidak tahu.

Pelabuhan Tanjung Priok, 30 tahun lagi akan diberikan ke orang asing, Pelabuhan Belawan juga akan diberikan ke asing lagi, Pelabuhan Surabaya. Jadi, pelabuhan saja kita tidak bisa kelola. Pelabuhan itu bukan teknologi tinggi, bangsa Indonesia dianggap tidak bisa mengelola pelabuhannya sendiri. Bahkan pangkalan udara Angkatan Udara Halim, diserahkan ke perusahaan, yang harus kita cek mungkin kepemilikannya milik asing juga.

Saya kira itu titipan saya, ini perjuangan KMP, kami tadi akhirnya 'legowo' dalam pertemuan dengan Pak Zulkifli Hasan.

Kita akhirnya mengeluarkan unek-unek dan kita akhirnya mendapat suatu kejelasan dan keyakinan kembali bahwa kawan-kawan di panggung untuk mencoba berkomitmen untuk kepentingan bangsa dan negara, bahkan beliau juga mengatakan di parlemen akan tetap bersama kita.

Jadi kita juga mohon, bahwa rakyat menaruh harapan kepada kita, rakyat menaruh harapan kepada KMP. Dengan KMP kita bisa menjadi mitra, kita bisa menjadi imbangan pemerintah untuk bersama-sama menggapai masa depan bangsa Indonesia.

Sekian itu dari saya, ini salah protokol kalau minta saya bicara, akhirnya saya jadi kampanye sedikit. Saya ingin menutup sambutan saya dengan membacakan pantun.

Satu dua cempaka biru, tiga empat jalan cambangan.
Kalau mendapat kawan yang baru, kawan lama dilupa jangan.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

(van/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads