"Banyak hal yang bisa dilakukan termasuk menginformasikan kondisi lalu lintas lebih akurat termasuk pemetaan daerah yang diwaspadai," ujar Badrodin Haiti dalam sambutannya di kantor LAPAN, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (4/9/2015).
Badrodin mengatakan hingga kini masih banyak tugas Polri dalam penindakan jaringan teroris. Penindakan teroris butuh kesiapan personel juga peralatan lengkap sebab ada teroris termasuk di Poso memanfaatkan hutan-hutan di pegunungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badrodin meminta unit Densus bisa bekerja sama dengan lapan dalam sistem penginderaan jarak jauh untuk mengetahui keberadaan jaringan teroris di Poso.
"Keberadaan mereka di hutan tidak di tempat terbuka akan sulit dipotret, sehingga sulit untuk mendeteksi mereka. Karena keberadaan mereka tidak banyak sekitar 30-40 orang, tentu yang harus dihindarkan upaya mereka melakukan perekutan untuk pelatihan militer dari luar daerah bahkan ada juga yang di luar negeri," paparnya.
Menurutnya jika perekrutan teroris tidak segera ditanggulangi maka akan menjadi permasalahan.
"Apakah nanti menggunakan pesawat tanpa awak yang dilengkapi peralatan tertentu, sehingga ada sistem yang bisa mendeteksi keberadaan mereka. Jadi kalau mereka tidak gunakan handphone lalu menggunakan HT itu juga bisa dideteksi. Mungkin ada peralatan yang dimodifikasi untuk mendeteksi hal itu cukup baik," imbuhnya.
Tak hanya kejahatan terorisme, Badrodin mengatakan pemanfaatan teknologi LAPAN juga bisa diharapkan dibidang penegakan hukum lainnya. Pasalnya seiringnya berkembangnya teknologi, hal itu diadopsi pelaku kejahatan.
"Sehingga kegiatan ini tidak sekedar seremonial dan pemanfaatan pemberdayaan produk LAPAN," ujarnya.
(edo/fdn)











































