Laporan pertama dilakukan pada tahun 2002 lalu. Di dalam dokumen pelaporan, Anang saat itu menjabat sebagai kepala pusat pencegahan BNN.
Total harta Komjen Anang saat tahun 2002 adalah Rp 1,2 miliar. Angka itu terdiri dari harta tidak bergerak Rp 410 juta, peternakan dan perkebunan Rp 120 juta, harta bergerak lainnya Rp 21 juta, surat berharga Rp 500 juta, giro setara kas Rp 6 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka itu terdiri dari harta tidak bergerak Rp 4 miliar, peternakan dan perkebunan Rp 480 juta, harta bergerak lainnya Rp 51 juta, surat berharga Rp 880 juta, giro setara kas Rp 22 juta, dan utang Rp 3,1 miliar.
Belum ada catatan kembali pelaporan kekayaan Anang saat menjadi Kepala BNN atau jabatan lainnya.
Anang merupakan lulusan Akpol tahun 1982 dan mengawali karir kepolisian di Bali sebagai Wakapolsek Denpasar Kota. Selain di Bali, Anang juga sempat menjabat sebagai Kapolsek Metro Pancoran, Kapolres Kediri, Kapolres Blitar serta kapolres Metro Jakarta Timur. Kursi reskrim bukanlah hal baru bagi Anang, ia pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Tangerang Polda Metro Jaya.
Masyarakat mungkin lebih mengenal Anang sebagai Kadiv Humas Polri pada tahun 2012, di mana beberapa kali wajahnya terpampang di layar televisi. Selang beberapa lama kemudian, Anang menjabat sebagai Gubernur Akpol menggantikan Irjen Djoko Susilo yang terseret kasus pengadaan barang simulator SIM.
Karier Anang terus menanjak. Usai menjabat Gubernur Akpol, Anang menduduki jabatan strategis sebagai Kepala Badan Narkotika nasional (BNN) pada tahun 2012 menggantikan Komjen Gories Mere yang pensiun.
Kini, Komjen Anang akan menempati posisi baru sebagai Kabareskrim menggantikan Komjen Budi Waseso. (mad/ndr)











































