Penampakan Cantiknya PKL di Seoul, Bisakah Kota-kota di RI Menyamainya?

Penampakan Cantiknya PKL di Seoul, Bisakah Kota-kota di RI Menyamainya?

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Rabu, 02 Sep 2015 10:38 WIB
Penampakan Cantiknya PKL di Seoul, Bisakah Kota-kota di RI Menyamainya?
Foto: Chaidir Anwar Tanjung
Seoul - Pedagang Kaki Lima (PKL) di Indonesia identik dengan kesemrawutan. Beda dengan di Seoul, ibukota Korea Selatan (Korsel), PKL-nya yang justru tertata apik.

Siang itu, suhu mencapai 29 derajat di kota Seoul saat detikcom mengitari kota Gingseng bersama rombongan jurnalis yang meliput pembukaan Kantor Cabang BNI akhir pekan lalu. Berjalan kaki dari satu ruas jalan ke jalan lainnya, beragam panorama bisa dinikmati.

Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah. Bukan perkantoran, melainkan mal. Padahal sepintas gedung menjulang tinggi itu tak tampak seperti pusat perbelanjaan yang jika Nusantara, kompleksnya disesaki PKL. Di sana, halaman mal bersih. Tidak ada lahan parkir yang luas seperti mal di Indonesia. Tulisan jika gedung tersebut mal, hanya terlihat di pintu masuknya saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sepanjang jalan protokol di Seoul, tidak terlihat deretan PKL membuka lapak di tepi jalan. Walau demikian, sepertinya otoritas di sana tetap memberikan kesempatan buat PKL untuk membuka usahanya.

PKL dipersilakan membuka lapak di tempat yang telah ditentukan. Misalnya saja, pedagang rokok, atau sepatu di tepi jalan. Mereka disediakan tempat ukuran 1,5 M x 2,5 m persegi empat.

Bangunan untuk PKL ini bentuknya sama dan terbuat dari wallpaper berwarna cokelat. Lapaknya tidak menghadap ke jalan, melainkan menghadap ke gedung.

Di bangunan wallpaper inilah, PKL membuka lapaknya. Dari jualan sepatu, rokok, dan sejumlah makanan ringan. Lapak yang sudah diberikan, tidak akan merembet ke mana-mana. Dagangan hanya boleh di dalam. Kalaupun berada di luar, masih tetap melekat di tempat utamanya.

Pemandangan ini tentu berbeda jika di Jakarta. PKL biasanya sesuka hatinya untuk membuka lapak di tepi jalan yang ramai dilintasi. Dagangannya justru dihadapkan ke tepi badan jalan. Inilah yang kadang membuat semerawut kondisi kota di Jakarta.

Di Seoul, PKL ini tidak akan mengganggu pengguna jalan walau tempat mereka di tepi jalan protokol. Karena warung mereka tidak dihadapkan ke badan jalan.

Setiap tempat berjualan secara otomatis dialiri listrik. Mereka tidak sembarangan mencantolkan listrik dari ruko di depannya. Ruangan mungil itu memang terkesan panas. Tetapi dengan adanya aliran listrik, para pedagang bisa memanfaatkan kipas angin.

Belanja di emperan dapat dengan santai dilakukan tanpa mengganggu aktivitas warga yang berjalan kaki. Karena memang di bagian depan gedung, trotoar untuk pejalan kaki disediakan cukup lebar. Pemandangan PKL tidak membuat kota semakin sumpek. Justru hal itu menjadi pemandangan unik tersendiri.

Penasaran ingin melihatnya, tak ada salahnya mengunjungi Seoul. Penataan PKL di sana patut kita contoh. (cha/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads