"Jadi tadi pada saat lapor ke Pak Presiden, ada dokumen yang disebut INDC, Intended Nationally Determined Contributions. Artinya niatan nasional pembahasan perubahan iklim dunia ditulis secara formal dan akan disampaikan dalam bentuk COP. Nanti di pembahasan pada saat itu dia akan dibangun untuk seluruh dunia," kata Menteri LHK Siti Nurbaya saat jumpa pers di Kantor Presiden Kompleks Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2015).
Presiden Jokowi menginginkan agar apa yang disampaikan oleh Indonesia betul-betul sesuai dengan karakter nusantara. Sehingga Indonesia tak lagi didikte soal pengelolaan lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi dilaporkan ke Bapak Presiden bahwa dalam INDC ini kita akan angkat konsep negara kepulauan, Nawacita, dan wawasan nusantara. Beberapa kegiatan seperti mitigasi dan adaptasi sudah dilakukan, tinggal diformulasikan," tutur Siti.
Kemudian Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim Rahmat Witoelar menambahkan pembuangan emisi juga akan menjadi tanggung jawab semua negara, bukan hanya negara berkembang. Maka itu Indonesia akan berperan dalam hal ini.
"Tak bisa direspons gegabah dan bentuk kesepakatan itu adalah kesanggupan masing-masing untuk menurunkan emisinya dan itu yang dihitung secara saksama. Apakah itu menjawab kebutuhan dunia kenaikan suhu 2 derajat?" kata Rahmat.
Menurut dia penyebab pemanasan global adalah karena semakin banyaknya gas karbondioksida (COΒ²) yang terbuang. Terutama yang berasal dari bahan bakar.
Oleh karena itu posisi Indonesia untuk berperan menstabilkan iklim sangat strategis. Menurut Ketua Dewan Pengarah Perubahan Iklim Sarwono Kusumaatmadja, Indonesia mampu untuk menunjukkan diri.
"Kita tidak sekedar datang tetapi kita juga memimpin stabilisasi iklim. Indonesia mainkan peranan, bahkan peranan Leadership. Kita punya keistimewaan tertentu yang harus mampu dorong ke depan untuk ciptakan dinamika terhadap iklim global," kata Sarwono. (bpn/mok)











































