dr Achmad Mochtar Jadi Kambing Hitam Penyebaran Virus Maut Bagi Romusha

Nur Khafifah - detikNews
Senin, 31 Agu 2015 10:50 WIB
Makam Achmad Mochtar (Foto: AN Uyung Pramudiarja)
Jakarta - Pada Juli-Agustus 1944, sekitar 400-900 romusha di Klender, Jakarta bergelimpangan tewas satu per satu. Beberapa pekan sebelumnya, para romusha itu menerima vaksin tifus-kolera-disenteri (TCD). Siapakah penyuntik vaksin masih misterius saat itu.

Penjajah Jepang ingin menyelidiki kematian romusha massal ini. Maka, minta tolonglah Jepang kepada Lembaga Eijkman yang kala itu sudah dipimpin oleh dr Achmad Mochtar.

"Dalam ilmu kedokteran waktu zaman Jepang, kalau ada yang mati begitu, mereka minta autopsi. Dokter-dokter kita saat itu kan didikan Belanda," jelas Prof Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang dipanggil Menristek saat itu, BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Hal itu dikatakan Sangkot kala berbincang dengan detikcom di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu.