"Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan para TKI di luar negeri, kita ingin memberikan fasilitas pelayanan kredit perumahan kepada para TKI. Kenapa demikian, karena berdasarkan survei kita orang Indonesia termotivasi ingin keluar negeri itu, salah satunya ingin menyekolahkan anak. Kedua, adalah ingin mempunyai rumah," ujar kepala BNP2TKI Nusron Wahid di Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/8/2015).
Nusron mengatakan pihaknya menggandeng lembaga keuangan, yaitu BTN yang mempunyai spesialisasi dan spesifikasi pembiayaan perumahan. Selain itu, program ini bagian dari rencana pemerintah mendirikan 1 juta rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korsel ditunjuk sebagai daerah percontohan karena pendapatan rata-rata buruh migran Indonesia tergolong tinggi. Selama ini remitensi BMI sekitar 20-25 persen dari total pendapatan. Hal ini berarti 75-85 persen gaji mereka habis digunakan konsumsi di negara setempat.
"Nah ini menjadi tidak baik, nah karena itu supaya tidak konsumtif kita larikan, kita kasih stimulasi dan rangsangan-rangsangan supaya tergerak program seperti perumahan ini," terangnya.
Untuk landed house flafon subsidi sebesar Rp 120 juta dan untuk apartemen rusunawa sebesar Rp 350 juta dengan bunga 5 persen.
Sementara itu, dirut BTN Maryono mengatakan jika subsidi sebesar 5 persen maka uang muka yang dibayarkan sebesar 1 persen. "Kalau subsidi, itu adalah 20 tahun. Kontraknya kan bisa diperpanjang, bisa diperpanjang," ucapnya.
Jaminan yang diberikan BMI nantinya adalah rumah itu sendiri atau rumah yang dibangun. Untuk awalnya, BTN menyiapkan subsidi sebesar 5.000 unit rumah. (fiq/ahy)











































