Dedikasikan Pencak Silat, Kemenpora Beri Penghargaan Kepala Mbah Doel Wahab

Dedikasikan Pencak Silat, Kemenpora Beri Penghargaan Kepala Mbah Doel Wahab

Bagus Kurniawan - detikNews
Sabtu, 29 Agu 2015 18:27 WIB
Dedikasikan Pencak Silat, Kemenpora Beri Penghargaan Kepala Mbah Doel Wahab
Foto: bagus
Yogyakarta - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memberikan penghargaan kepada Mbah Doel Wahab (83) atas dedikasinya terhadap olahraga pencak silat. Mbah Doel Wahab juga dikenal sebagai anggota misi kebudayaan Indonesia yang dikirim oleh Presiden Soekarno keliling Eropa.

Pemberian penghargaan dilakukan di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta di Jl Sriwedani, Sabtu (29/8/2015) oleh wakil Kemenpora Dr Alwan Hadri, MPd. Acara tersebut sekaligus penutupan rangkaian kegiatan "Pencak Silat, budaya, seni dan tradisi" yang digelar Perguruan Silat Inti Ombak sejak tanggal 27-29 Agustus 2015
Β 
Alwan mengatakan kemenpora memberikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi Mbah Doel Wahab dalam olahraga pencak silat yang telah dilakukan sejak usia muda hingga saat ini.

"Kemenpora memberikan apresiasi yang tinggi kepada Perguruan Inti Ombak yang telah berusaha mengembangkan seni bela diri silat tidak hanya di Indonesia saja namun juga ke luar negeri," kata Alwan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengaku bangga karena pencak silat bisa terus berkembang hingga Eropa, Rusia dan Amerika Serikat. Kemenpora juga akan memasukkan pencak silat ke dalam cabang olahraga yang bisa dipertandingkan di Asian Games.

"Ini akan terus kita lakukan. Kita tidak boleh puas hanya sampai disitu (Asian Games) saja tapi terus berupaya agar bisa dipertandingkan hingga Olimpiade," katanya.

Sementara itu Mbah Doel Wahab mengaku dirinya senang sekali bisa mendapat penghargaan ini di usia saya yang sudah 83 tahun. Pada hari ini tanggal 29 Agustus 2015 adalah tepat 58 tahun dirinya bersama anggota misi kebudayaan Indonesia berangkat menuju Eropa seperti Polandia, Hungari dan Rusia selama lebih kurang 3,5 bulan.

"Saya masih ingat 58 tahun lalu tanggal 29 Agustus 1957, kami bersama 41 orang anggota misi kebudayaan berangkat ke Eropa," katanya.

Menurutnya ada empat orang pesilat yang ikut dalam rombongan itu, yakni dirinya, Rosidi, Jumali dan Suhada. Sedangkan anggota misi kebudayaan lainnya ada penari dari Jawa, Sunda, Sumatera dan pemusik seperti seniman musik asal Batak, Gordon Tobing dari Sumatera Utara.

"Semuanya sudah almarhum dan tinggal saya saja sekarang," ungkap pensiun Dinas Pendidikan dan Olahraga DIY itu.

Dia kemudian bercerita rombongan yang berjumlah sekitar 41 orang itu dari Jakarta menggunakan pesawat terbang tmenuju Medan, kemudian menuju Thailand. Setelah transit di Thailand baru melanjutkan perjalanan menuju Eropa.

"Saya disana saat dikenal bukan sebagai pesilat tapi pesenam. Namun pakaian tetap pakaian silat, hitam-hitam," tuturnya.

Di atas panggung, Mbah Doel Wahab juga sempat memperagakan beberapa jurus silat andalannya yakni jurus harimau.

"Mohon maaf sudah tidak seperti dulu, seadanya. Kaki saya sedang sakit asam urat," katanya.

Meski dia sudah belajar silat sejak usia 7 tahun dari berbagai pendekar silat, dia mengaku tidak pernah menggunakan ilmu silat itu untuk berkelahi. Sebab kalau digunakan untuk berkelahi, dia takut berurusan dengan polisi atau tindak pidana.

"Pencak sebagai olahraga. Itu seninya, ada di gerakan atau jurus-jurusnya. Saya nggak berani untuk kelahi, bisa dipidana kalau saya memukul sampai orang terluka," katanya.

Selain dikenal sebagai pesilat, Mbah Doel juga dikenal sebagai wasit sepakbola di Yogyakarta. Dia juga mendirikan perkumpulan seni barongsai dan naga liong Isakuiki. Pemainnya sebagian adalah warga masyarakat sekitar tempat tinggalnya di Kemetiran Kidul, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.

Para pemain barongsai oleh Mbah Doel Wahab dilatih dengan jurus-jurus silat saat memperagakannya. Dia juga memperkenalkan senam pencak silat atau gerakan senam dengan menggunakan jurus-jurus silat. (bgs/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads