Tanpa Mbah Sadiman yang Tanam Beringin, Tak Ada Air dari Bukit Gendol

Pahlawan Penghijauan dari Wonogiri

Tanpa Mbah Sadiman yang Tanam Beringin, Tak Ada Air dari Bukit Gendol

Muchus Budi R. - detikNews
Jumat, 28 Agu 2015 18:24 WIB
Tanpa Mbah Sadiman yang Tanam Beringin, Tak Ada Air dari Bukit Gendol
Foto: Muchus Budi/detikcom
Wonogiri - Apa yang dilakukan Mbah Sadiman (65) menanami lahan gundul di Bukit Gendol, Wonogiri dulu banyak disepelekan warga. Tapi belasan tahun kemudian, warga merasakan banyak manfaatnya. Sadiman sukses membawa kembali air yang hilang dari Bukit Gendol.

Kali di tengah bukit bahkan tetap mengalir deras di puncak musim kering seperti sekarang. Bukan hanya cukup untuk mengairi lahan pertanian di bawah gunung, air pegunungan yang bersih dan sejuk itu juga disalurkan dengan pipa-pipa untuk kebutuhan air bersih bagi warga dua desa yaitu Desa Geneng dan Desa Conto yang berada persis di kaki bukit.

"Ada 650 kepala keluarga di dua desa ini sangat tergantung pada keberadaan air bersih dari sungai Bukit Gendol. Orang yang selama ini tidak peduli bahkan sering mengganggu pohon beringin yang ditanam Mbah Sadiman itu sebenarnya juga bergantung pada sumber air bersih yang diupayakan Mbah Sadiman itu. Ini sangat memalukan sebenarnya. Bukannya membantu malahan justru sering mengganggu, padahal mereka sangat terbantu upaya Mbah Sadiman," ujar Suranto, ketua kelompok pengadaan air warga Desa Geneng, Kamis (27/8)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami harus jujur mengatakan bahwa Mbah Sadiman ini pahlawan. Dulu banyak orang mencibir dan bahwa menilainya sebagai orang kurang waras karena setiap hari menanami lahan yang bukan miliknya dan pasti tidak memetik hasil untuk menebang atau menjualnya karena itu di lahan hutan. Namun sekarang seluruh warga menikmati hasil jerih-payah itu karena air kembali melimpah," ujar Wagiyono, Wakil Ketua Lingkungan Masyarakat Dekat Hutan (LMDH) Desa Geneng.

Mbah Sadiman merasa malu jika semasa hidupnya tak pernah melakukan kebaikan. Dia berlepas dari keinginan membuat pencitraan untuk tampil di permukaan sebagai pahlawan namun tak sedikitpun menyentuh akar persoalannya. Dia langsung bertindak, berbuat dan berkarya kemampuan dan ruang gerak yang dimampukan baginya.

Akhirnya Sadiman adalah jawaban atas seribu slogan tentang pembangunan. Moral dan mentalitasnya berbuah kebaikan yang akan terus terpatri di benak generasi mendatang, tanpa dia harus berkoar tentang revolusi mental.

Mbah Sadiman mengajarkan kita tentang berkarya, berbuat kebaikan untuk masa depan tanpa merasa sebagai orang yang penting karena bersahabat dengan alam adalah bagian dari kewajiban kita sebagai bagian alam raya. Darinya kita mengambil makna tentang mengabdikan kebaikan kepada kemanusiaan tanpa rasa ingin memetik hasilnya.

Kita harus berkaca, di saat kita telah sok merasa penting, apakah kita telah mampu berbuat banyak dalam menjaga kebaikan bersama dan nilai kemanusiaan seperti Mbah Sadiman. Kita harus berkaca, di saat kita masih menginginkan sesuatu yang berlebih, Mbah Sadiman mengajarkan kesahajaan. Sebab konon separuh kerusakan yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh orang-orang yang merasa penting, sedangkan separuhnya lagi akibat dari orang-orang serakah. (mbr/dra)


Berita Terkait