Chatib Basri : Pengurangan Subsisi BBM Wajar
Sabtu, 26 Feb 2005 13:46 WIB
Jakarta - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Chatib Basri menilai rencana pemerintah untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah wajar."Alasan saya sangat sederhana, saya membayar pajak untuk kesejahteraan semua. Saya tak mau diberikan kepada masyarakat mampu. Kalau mau subsidi sebaiknya diberikan kepada mereka yang layak mendapat subsidi. Jangan orang kaya di subsidi," kata Chatib Basri saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Sabtu (25/2/2005).Oleh karena itu, Chatib mengaku setuju dengan iklan yang dimuat Kompas, sabtu (25/2/2005). "Saya setuju, karena selama ini yang menikmati subsidi orang yang tinggal di kota. Sementara yang di desa tidak terpengaruh dengan kenaikan harga BBM. Padahal kemiskinan terbanyak di pedesaan," ujarnya.Lebih lanjut Chatib Basri menjelaskan bahwa kita biasanya alergi dengan kenaikan harga BBM karena tinggal di kota. Kalau di desa-desa, kebutuhan utama mereka beras. Asal ada beras murah, pendidikan gratis dan kesehatan murah, maka bagi warga desa sudah sangat membantu. Ini akan mengurangi kemiskinan, terutama yang di desa-desa."Lain dengan warga yang hidup di kota. Karena kebutuhan terbanyak bukan lagi beras. Tetapi di kota transport menjadi kebutuhan yang sangat besar," imbuhnya.Subsidi juga hanya akan menyenangkan para penyelundup minyak. "Jika harga BBM tetap disubsidi, banyak penyelundup menjual minyak ke luar negeri, karena harga di Indonesia murah. Saya tidak mau menyenangkan para penyelundup minyak ini," tambah peneliti LPM FEUI ini.
(jon/)











































