"PKL kita bayar lebih mahal daripada sewa di mal karena buka dari pagi sampai tengah malam. (Bayar) Rp 20 ribu untuk oknum kelurahan lewat RT/RW. Ini ada dirty hand-nya. Nanti ada oknum Satpol PP dan aparat juga ada oknum kebersihan," terang Ahok saat memberi sambutan di peresmian PT Jamkrida DKI di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2015).
"Jadi si pedagang 1 meter persegi sewa Rp 15 ribu. Matematika saya agak payah tapi kalau untuk berdagang masih bisa lah Rp 60 ribu bagi 4 (minggu) jadi Rp 10 ribu. Sebulan bisa Rp 400 ribu. Kenapa dia nggak mau ke mal, karena minta bayar 2 tahun di muka," urainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Bupati Belitung Timur itu menyebut banyak orang berdasi di kantoran makan siangnya di warteg atau pinggir jalan. "Di Jakarta ini walaupun keren berdasi tetap makan siang di warteg. Nggak bisa makan di mal gaji pas-pasan gitu. Dia pasti beli mie goreng atau kwetiaw di luar. Sudah 40 tahun baru kanker terdeteksi," kata Ahok.
Dia bahkan mengatakan pihaknya berani mengucurkan modal bagi PKL senilai Rp 1 triliun. Tentu saja dengan syarat mereka harus memiliki kartu ATM combo Bank DKI.
"Saya sanggup kasih Rp 1 triliun. Kita bisa kasih kredit Rp 5 juta ke PKL. Kasih Rp 1 triliun bagi Rp 200 ribu ke tiap pedagang. Nggak usah jaminan juga saya berani (kasih) asal setiap pedagang punya kartu ATM Bank DKI combo seperti ini. Kalau nipu saya pecat saja," tutup dia sambil menunjukkan kartu pengenal Ahok yang ditempel di kantong seragamnya. (aws/mok)











































