Cerita Mega Soal Risma Bolak-balik Telepon karena Tak Ada Lawan di Surabaya

Cerita Mega Soal Risma Bolak-balik Telepon karena Tak Ada Lawan di Surabaya

Rina Atriana - detikNews
Kamis, 27 Agu 2015 13:35 WIB
Cerita Mega Soal Risma Bolak-balik Telepon karena Tak Ada Lawan di Surabaya
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Calon tunggal menjadi polemik pelaksanaan Pilkada Serentak kali ini. Salah satunya pencalonan Risma sebagai Wali Kota Surabaya.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri menceritakan, Risma sempat meneleponnya berkali-kali terkait calon tunggal ini. Hal tersebut disampaikan Mega dalam acara pelantikan Badan Saksi Pemilu Nasional dan Badan Pemenangan Pemilu di Kantor PDIP, Jl Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2015).

"Sampai ibu Risma bolak balik telepon saya ini bagaimana kalau nggak ada lawannya, masa saya nunggu sampai 2017. Saya bilang taat aturan, meskipun saya bilang aturan opo. aturan itu ada 2, aturan bener dan dibuat-buat," tutur Mega.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mega menilai, pelaksanaan Pilkada Serentak terlihat terburu-buru. Pada akhirnya ketika ada persoalan calon tunggal, belum ada solusi yang dipersiapkan.

"Mengapa persoalan yang substansial, selalu suasananya dikalahkan sesuatu yang sangat teknis, yang mestinya gampang malah jadi rumet. Saya sampai geleng-geleng kepala. Kalau orang ini disuruh nunggu nanti ditunggu lanjutannya," jelas Mega.

"Plt tidak bisa menandatangani hal-hal sangat strategis dan urgent, di daerah akan terjadi sesuatu 'berhenti'," terangnya.

Mega menyarankan, Pilkada dengan calon tunggal dilakukan dengan sistem mirip pemilihan kepala desa. Warga memilih, antara iya atau tidak. Bukan memilih calon satu atau calon dua.

"Misal Pak Hasto calon tunggalnya, rakyat memilih atau pulang. Dihitung yang pulangnya berapa. Apa bumbung kosongnya masih banyak, artinya bumbung protes lebih banyak. Kalau orang yang menang, lebih banyak rakyat yang memilih dia sebagai pemimpinnya," beber Mega.

"Mengapa mengorbankan kepentingan rakyat, hanya karena seperti sebuah gengsi. Kita sebagai manusia tidak sempurna. Demi demokrasi tetap berjalan di Indonesia. Nunggu tahun 2017 baru maju lagi, bagaimana kalau nggak ada lawan lagi, masa masih suruh nunggu lagi. Coba saja," imbuhnya.

(rna/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads