Hujan Es Kembali Turun di Puncak Papua, Kelaparan dan Penyakit Menghantui Warga

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 27 Agu 2015 08:38 WIB
Foto: istimewa
Jakarta - Tadi malam Distrik Ilaga dan Gome, Kabupaten Puncak, Papua, dilanda hujan es. Akibatnya lahan perkebunan terancam gagal panen. Penyakit pun mulai mengancam warga.

Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Kabupaten Puncak Willem Wandik kepada detikcom via sambungan telepon, Kamis (27/8/2015) pagi.

Dijelaskan Willem, sejak Rabu (26/8) sore, suhu dingin sudah terasa sejak sore di Distrik Ilaga. Malam harinya, dia dan para warga merasakan dingin semakin menusuk tulang.

"Memang sore kemarin dinginnya luar biasa. Saya sudah menduga malam tadi akan turun es. Ternyata terbukti. Malam tadi suhu di Ilaga mencapai 2 derajat celcius. Pagi ini masih sangat dingin, tapi suhu berkisar di 16 derajat," kata Willem.

Dia sendiri pagi tadi sudah keluar dari rumah untuk memeriksa Distrik Ilaga dan Gome. "Saya lihat ternyata, benar, es menyelimuti di daerah ini," ucap Willem. Dirinya belum memeriksa beberapa distrik lainnya di Kabupaten Puncak, namun dia meyakini di semua lokasi juga turun hujan es.

Menurut Willem, Kabupaten Puncak memang sudah dilanda kekeringan. Turunnya salju ini menurut dia makin berdampak pada lahan perkebunan warga. "Ubi, keladi, ternak warga pasti rusak dan bisa mati. Penyakit juga jadi ancaman," imbuh dia.

Lanjut Willem, dirinya dan jajarannya sudah mulai melakukan langkah-langkah antisipasi. Bahan makanan dan obat-obatan tengah dipasok agar warga tak kelaparan dan bisa diobati jika sakit. Dirinya juga telah mengambil sampel salju tersebut. Dia berencana membawa sampel itu ke Jakarta untuk diteliti.

"Kita sudah mulai drop makanan terus untuk ketahanan pangan, pakai pesawat swing otter dari Timika. Diangkut terus tiap hari. Kami mulai persiapan jangan sampai masyarakat gagal panen dan akhirnya terdampak pada kelaparan. Pemerintah sudah antisipasi siapkan makanan," imbuh Willem.

Sebelumnya Willem mengatakan, stok beras mereka ada sekitar 500 ton. Namun stok itu ada di Timika dan harus diangkut bolak-balik menggunakan pesawat perintis. Memang belum ada jalur darat yang menembus kabupaten tertinggi di Indonesia ini.

"(Mengangkut beras) 500 ton itu butuh 357 kali penerbangan. Total yang harus dibayar sekitar Rp 12,5 miliar. Itu berat sekali," ucap Willem kala itu. Satu kali penerbangan pesawat perintis hanya bisa mengangkut 1.400 kg beras. Biaya angkut sekali jalan sebesar Rp 35 juta. Itu pun menurut dia memungkinkan jika kondisi cuaca bagus. (ear/dra)