Menyelamatkan Anak Jalanan di Surabaya

Menyelamatkan Anak Jalanan di Surabaya

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Rabu, 26 Agu 2015 19:20 WIB
Menyelamatkan Anak Jalanan di Surabaya
Foto: Imam Wahyudianta
Surabaya - Kemiskinan masih menjadi salah satu penyakit suatu negara. Adanya kemiskinan menjadi salah satu penyebab sering abainya orang tua terhadap anak. Anak dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan hak nya. Anak sering menjadi korban, yang sayangnya hal ini seakan lumrah dilakukan para orang tua.

Sebuah komunitas, peduli akan hak anak yang terabaikan tersebut. Save Street Child (SSC) adalah namanya. Komunitas ini mengalirkan kebaikan terbentuk dari kesamaan ide yang kemudian menjadi gerakan di media sosial. Berawal dari Jakarta, SSC kemudian menyebar ke kota-kota lain dengan anggota-anggotanya yang mempunyai keprihatinan dengan masalah yang sama.

SSC berbeda dengan komunitas lain yang saling terkait dan mempunyai hirarki untuk kepengurusan nasional. SSC tidak saling terkait dan hanya mempunyai pengurus untuk tingkat lokal saja. Ada 14 SSC yang sudah terbentuk, di antaranya di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Makasar, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Jember, Padang, Palembang, Medan. Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari 14 SSC yang ada, SSC yang dikenal paling sering mengadakan kegiatan adalah SSC Surabaya. SSC Surabaya sendiri dibentuk pada 5 Juni 2011, tak lama setelah pembentukan SSC Jakarta pada 23 Mei di tahun yang sama.

"Kami awalnya hanya saling komen di media sosial dengan SSC yang ada di Jakarta. Setelah itu kami membentuk sendiri SSC Surabaya," kata Ketua SSC Surabaya Advin Mariyono kepada detikcom.

Awal berdiri, kata Advin, SSC Surabaya hanya mempunyai delapan anggota yang sekaligus menjadi pengurus dengan hirarki ketua, sekretaris, bendahara, humas program, pendidikan, fund rising, dan riset serta advokasi. Setelah melakukan 'promosi' baik di media sosial maupun numpang di kegiatan lain, lambat laun makin banyak warga Surabaya, khususnya anak muda yang ikut bergabung.

"Sekarang sudah ada 150 an anggota. Memang semuanya tidak bisa aktif sih dalam satu waktu. Tetapi mereka silih berganti datang setiap ada kegiatan," ujar Advin.

Advin menjelaskan, dari hasil survei yang dilakukan pihaknya, di Surabaya ada sekitar 1.000 anak yang masih belum bisa terpenuhi hak nya. Tetapi SSC Surabaya masih belum mampu mendampingi semuanya. SSC hanya mampu mendampingi sekitar 300 anak, yang berarti belum ada separuhnya.

300 anak yang didampingi SSC Surabaya ada di kawasan jembatan Merah Plaza (JMP), Taman Bungkul, HR Muhammad, Kertajaya, Kusuma Bangsa, Jagiran, dan Delta Plaza. Sementara untuk kawasan lain, SSC Surabaya masih kekurangan 'amunisi'.

Awalnya, kata Advin, SSC Surabaya melakukan pendampingan terhadap anak-anak jalanan sesuai dengan SSC yang menyertakan kata street (jalanan) pada namanya. SSC Surabaya pun mencari anak yang mengamen, menjual koran, dan semua anak yang melakukan aktivitas di jalan.

Tetapi makna anak jalanan akhirnya jadi bergeser, secara notabene juga sudah sulit menemukan anak yang melakukan aktivitas di jalanan Surabaya karena kebijakan Pemkot Surabaya. Yang kini menjadi sasaran adalah anak yang kurang beruntung seperti anak yang orangtuanya berada pada kelas ekomoni menengah ke bawah.

"Kami tidak menyebut anak jalanan atau anak marjinal lagi, tetapi kami menyebut mereka anak merdeka," lanjut pria 24 tahun ini.

Untuk kegiatan, Advin masih mengingat kegiatan pertama kali yang dilakukan oleh SSC Surabaya. Kegiatan pertama kali yang digelar adalah '1.000 buku untuk anak jalanan (anjal)'. Buku-buku bacaan yang didapatkan dari donatur dan dibeli dari sumbangan para donatur dipergunakan untuk mengajar anak-anak. Β 

"Kalau kami ada kegiatan mengajar di suaru lokasi, kami bawa buku-buku itu untuk mengajar dan dibaca anak-anak. Kalau sekarang sih buku itu jadi koleksi perpustakaan kami," kata Advin.

Advin mengaku terus melakukan kegiatan apa pun agar SSC tidak vakum. Tercatat ada kegiatan seperti lomba Agustusan, belajar bareng, buka puasa bersama, bagi-bagi jas hujan, dan segala macam kegiatan lain. Dan Advin bersyukur kegiatan tersebut berjalan lancar.

"Pokoknya kegiatan kami sesuaikan dengan momen atau peristiwa yang ada," jelas pria lulusan Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) tersebut.



Kini, kata Advin, SSC telah mempunyai kegiatan tetap. Kegiatan itu adalah Jumat sehat, pengajar keren, beasiswa anak merdeka, piknik asyik, dan pentas seni. Jumat sehat adalah kegiatan yang diadakan seminggu sekali. Kegiatan ini berupa pembagian susu dan biskuat kepada anak-anak di lokasi yang telah ditentukan.

Ada empat titik tetap kegiatan Jumat sehat yang dilakukan di lokasi yang disebut on the spot yakni di di kawasan JMP, Makam Rangkah, Genteng Kali, dan Gemblongan. Jumat sehat juga menyasar lokasi on the road yakni perempatan Traffic Light (TL) di kawasan Wijaya Kusuma, Kertajaya, Delta Plaza, dan Husada Utama.

"Selain membagi susu dan biskuit, kami juga mengadakan kegiatan yang sifatnya interaktif dengan anak-anak berdasarkan tema apa yang ada di bulan tersebut," lanjut Advin.

Seperti yang dilihat detikcom di kawasan Genteng Kali, anak-anak yang tinggal sangat sederhana di rumah semi permanen diajak mengikuti lomba Agustusan. Dengan riang, anak-anak TK dan SD tersebut turut larut dalam kegembiraan aneka macam perlombaan.

Namun sebelum lomba dimulai, seorang dokter dari sebuah yayasan amal melakukan edukasi. Saat itu edukasi yang dilakukan adalah mengenai hidup sehat seperti mandi, cui tangan, membersihkan kuku, membersihkan rambut, dan lain sebagainya. Kepada anak-anak, dokter menjelaskan makna hidup sehat disertai dengan penjelasan yang diperagakan oleh anggota SSC.

Warga sekitar tidak melarang bahkan sangat welcome kepada SSC. Mereka menganggap SSC telah memberikan sesuatu yang positif kepada anak mereka untuk ke arah yang lebih baik.

"Anak saya senang kalau mas-mas dan mbak-mbak itu datang kemari. Anak saya langsung keluar kalau mereka datang," kata Selami, ibu tujuh anak yang sehari-harinya berjualan sayur.

Puput Mei Kusrini juga senang saat kedua anaknya ikut dalam aktivitas SSC. Anak Puput, Azalovia Putri Ramadhani (6) dan Tiara Putri Ramadhani (3) jadi lebih tahu dan paham tentang sesuatu yang mungkin tidak diajarkan di sekolahnya.

"Anak saya malahan lebih ingat apa yang diterangkan oleh anak-anak muda itu. Mereka juga senang dapat hadiah, selain susu dan roti (biskuit), kadang-kadang diberi buku dan pensil juga," ujar perempuan 27 tahun itu.

Kegiatan lain adalah pengajar keren. Pengajar keren adalah kegiatan belajar outdoor di lokasi yang telah ditentukan. Ada delapan lokasi pengajar keren yakni di JMP, Taman Bungkul, TL Kertajay, Ambengan Batu, TL Ambengan, Jalan Arjuna, Jalan HR Muhammad, dan Ambengan Selatan Karya.

Pengajar keren ini membuka kegiatan belajar seminggu tiga kali. Pesertanya adalah anak-anak merdeka yang ada di kawasan tersebut. Isma Nurhasanah, salah satu pengajar di pengajar keren mengatakan bahwa ia enjoy melakukan kegiatan tersebut. Meski ada kesulitan tersendiri, Isma tetap menikmatinya.

"Dasarnya saya suka anak-anak, makanya saya suka mengajar mereka," kata gadis 18 tahun itu.

Isma mengenal SSC dari temannya. Begitu mengetahui yang menjadi 'objek' adalah anak-anak, perempuan warga Carikan, Bubutan itu tak perlu berpikir dua kali. "Saya pernah mengajar TK, menggantikan salah satu gurunya yang cuti hamil," ujar Isma.

Kegiatan beasiswa merdeka merupakan pemberian beasiswa kepada anak yang benar-benar membutuhkan untuk meneruskan sekolah. Awalnya hanya ada 7 anak yang mendapat beasiswa. Namun kini sudah ada 33 anak yang bisa meneruskan sekolahnya dengan tenang tanpa memikirkan biaya.

"Kami sih inginnya sebanyak mungkin. Kalau dananya ada, pasti jumlah penerima beasiswa juga lebih banyak," kata Advin.

Memberi kebahagiaan kepada anak-anak juga dipikrkan oleh SSC Surabaya. Karena itu ada kegiatan piknik asyik. Kegiatan ini dilakukan tiga bulan sekali. Objek yang menjadi jujugan adalah temapt-tempat wisata di Surabaya seperti Kebun Binatang Surabaya (KBS), Pantai Kenjeran, dan lain sebagainya.

Dan untuk menunjukkan bakat serta ketrampilan anak-anak, ada kegiatan pentas seni. Pentas seni ini ditampilkan setahun sekali pada bulan Juni atau saat terbentuknya SSC Surabaya. Pentas seni biasanya ditampilkan di Balai Pemuda.

"Ini sedang latihan angklung mau tampil UK Petra. Di Car Free Day juga mau tampil yang grup musik," ujar Advin.

SSC Surabaya juga mempunyai markas. Markas yang disebut sekretraiat itu berfungsi untuk menjalankan dan mengontrol aktivitas SSC Surabaya. Seuah rumah di Jalan Jagiran 64 Tambaksari menjadi lokasinya.

"Sebelumnya kami di Joyoboyo. Dan sudah dua tahun belakangan ini kami mempunyai sekretariat di Jagiran," lanjut Advin.

Sekretariat itu juga digunakan untuk lokasi belajar bersama. Sekretariat itu tidak kosong. Sekretariat itu dihuni oleh delapan anak yang dibina SSC Surabaya. Anak-anak tersebut kini menjadi pendamping bagi anak-anak lain. Mereka adalah M. Affandi Bogi Andi Lau (15), Triyono Fandy (19), Yusuf Arifin (16), Wahyu Setiawan (16), ST Guslainah (18), dan Nur Diana (18), Dani Abdillah (13), dan M Fariz (7).

Semuanya adalah anak-anak yang dulu sempat berada di jalanan. Mereka adalah penjual koran (Andi, Fandy, Yusuf, Wahyu, dan Dani) dan penjual makanan (Guslainah, Diana, dan Fariz). Rata-rata dari mereka sudah tinggal di sekretariat selama dua tahun belakangan.

Mereka bukan anak yatim atau piatu, kecuali Fandy. Mereka juga masih mempunyai orang tua. Tetapi mereka lebih memilih tinggal di sekretariat.

"Di sini enak, bisa sekolah," kata Yusuf yang masih duduk di kelas 1 SMK dr Soetomo.

Tetapi tidak semua dari mereka bersekolah. Seperti contohnya Andi yang belum melanjutkan pendidikannya. Tetapi Andi mempunyai keinginan keras untuk melanjutkan sekolah.

"Di sini enak, bisa belajar bareng-bareng," kata Andi yang masih mempunyai oramng tua di kawasan Manyar.

Andi sendiri sempat bersekolah SD. Namun ia putus sekolah saat kelas 5 SD dengan alasan malas bersekolah. Andi mengaku menyesal telah drop out dari sekolah. Karena itu kini ia ingin menebusnya dengan belajar meski tidak formal.

"Saya ingin ikut kejar paket, tapi masih menunggu. Saya pingin sekolah karena saya ingin jadi tentara," ujar Andi.

Selain Andi, yang belum sekolah atau sempat drop out tapi berniat bersekolah kembali adalah Wahyu Setiawan, Diana, dan Dani. Mereka i
ngin agar anak-anak yang lain tidak bernasib atau mengalami apa yang pernah mereka rasakan.

"Saat saya mendampingi anak-anak itu, saya juga bisa merasakan kalau saya juga seperti mereka saat dulu," ujar Yusuf.



(mad/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads