Kali ini sebuah pelajaran penting datang dari Anggota DPD Ahmad Jajuli yang datang berkunjung ke Tanah Haram di Makkah. Di hadapan beberapa pimpinan petugas haji, Jajuli berbagi kisah tentang Abu bin Hazim, seorang ahli ibadah yang lupa pada lingkungannya.
Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hazim yang kuat sekali tahajudnya. Hampir bertahun-tahun dia tidak pernah absen melakukan salat tahajud. Di saat yang lain tertidur, setiap pukul 2 dini hari dia bangun lalu mengambil wudhu kemudian salat tahajud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sembari tersenyum, sosok itu berkata, "Aku Malaikat utusan Tuhan,"
Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia. Dia lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Malaikat itu menjawab, "Aku disuruh mencari hamba pencinta Tuhan."
Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu Hazim lalu bertanya, "Wahai malaikat, buku apa gerangan yang kau bawa?"
Malaikat menjawab, "Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Tuhan."
Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hazim berharap dalam hati namanya ada di situ. Maka ditanyalah malaikat itu. "Wahai Malaikat, adakah namaku di situ?".
Abu bin Hazim berasumsi namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Selalu ibadah tahajud, berdoa, dan bermunajat pada Allah di sepertiga malam.
"Baiklah, aku buka," kata Sang Malaikat sembari membuka kitab besarnya. Dan ternyata, malaikat itu tidak menemukan nama Abu bin Hazim.
Tidak percaya, Abu bin Hazim meminta malaikat mencarinya sekali lagi. Kepercayaan dirinya meluntur, khawatir namanya benar-benar tidak ada di buku hamba pecinta tuhan itu.
"Betul. Namamu tidak ada," kata Malaikat setelah memeriksa nama-nama yang ada di dalam buku.
Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tapi namaku tidak masuk dalam hamba pecinta Tuhan," ratapnya.
Melihat itu, Malaikat berkata, "Wahai Abu bin Hazim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, mengambil air wudhu kedinginan pada saat yang lain terlelap buaian malam. Tapi tanganku dilarang Tuhan menulis namamu."
"Apa kah gerangan yang menjadi penyebabnya?" tanya Abu bin Hazim.
"Engkau memang bermunajat, tapi engkau asyik beribadah untuk dirimu sendiri. Kanan kirimu ada orang yang lapar, tidak engkau beri makan. Bagaimana mungkin engkau menjadi hamba pecinta Tuhan kalau engkau tidak mencintai hamba yang diciptakan Tuhan?" ujar malaikat itu.
Abu bin Hazim seperti tersambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya ke Allah semata tetapi juga ke sesama manusia dan alam.
Abu bin Hazim takzim. "Aku berjanji setelah ini akan menyempurnakan ibadahku dengan menjadi orang yang peduli kepada sesamaku," tuturnya.
Cerita ini membuat Direktur Penyelenggara Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis meneteskan air mata. Kisah ini seolah menjadi penyemangat bagi petugas haji yang melayani para jemaah.
Di saat sedang berada di Tanah Suci, petugas haji harus tetap melayani dan mengayomi jemaah. Di saat seharusnya punya kesempatan berhaji, petugas haji tetap mengutamakan para jemaah. (gah/aan)











































