Timotius Serenem, Mengalirkan Bibit Kebaikan di Tanah Papua

Timotius Serenem, Mengalirkan Bibit Kebaikan di Tanah Papua

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 26 Agu 2015 14:24 WIB
Timotius Serenem, Mengalirkan Bibit Kebaikan di Tanah Papua
Foto: Bagus PN
Jakarta - Sudah lama sekali istilah 'Zamrud Khatulistiwa' tak dilekatkan untuk menyebut bumi Indonesia. Padahal di belahan Indonesia timur sana bisa dibilang masih banyak hutan hujan tropis nan hijau.

Sayangnya hobi berkebun tak semua penduduk Indonesia meminatinya. Adalah Timotius Serenem (53) seorang penyebar bibit cinta lingkungan yang gigih berkampanye sejak 15 tahun lalu.

Semua berawal ketika Tomotios geram melihat lingkungan di sekitarnya yang rusak. Akhirnya, di berniat baik untuk memulai sebuah komuntas berkebun. Sejak itu, mengalir kebaikan darinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya saya mulai dari diri saya sendiri. Saya suka berkebun tetapi di sekitar saya sudah mulai jarang yang hobi berkebun, lingkungan jadi rusak," kata Timotius saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/8/2015).

Timotius takut apabila nantinya alam semakin rusak kalau masyarakat sudah meninggalkan kebiasaan berkebun dan pekerjaan bertani. Dia pun sedikit demi sedikit mendekati tetangga sekitar untuk ajak berkebun.

"Susah mengajaknya, karena mereka maunya kerja pindah-pindah mulai dari kerja di kota, berburu, sampai pemborong kayu," kata Timotius.

Mulailah dia memperlihatkan hasil tanaman konsumsi keluarga serta tanaman obat. Perlahan-lahan ada juga yang akhirnya tertarik.

Kemudian 15 tahun lalu itu dia bergabung dengan tim penyuluh dari Departemen Pertanian setempat. Semua itu demi memperluas jangkauan dia untuk mengkampanyekan lingkungan.

"Saya mulai dekati kelompok-kelompok tani, sosialisasikan tentang pertanian. Tidak gampang dan kadang menimbulkan reaksi. Ada yang anggap kalau bercocok tanam itu repot harus ini harus itu, sehingga tak tertarik," tutur Timotius.

Dengan penuh kesabaran dia akan kembali lagi ke masyarakat itu sampai semua benar-benar sadar akan kelestarian lingkungan. Tentunya Timotius tak bekerja seorang diri.

"Kalau ke kelompok tani pasti ada yang saya ajak itu. Tapi karena ini pekerjaan sukarela sehingga tidak mudah ajak orang karena tidak ada biayanya. Kesulitan yang saya temui adalah todak menemukan pemimpin yang kuat di kelompok tani untuk saya pegang," kata dia.

Kini dia sudah berpindah-pindah kurang lebih 4 desa yang masing-masing dia dalami sampai beberapa tahun. Pertama kali adalah desa asalnya di Wombon, kemudian Desa Wembi, Desa Nafri, dan saat ini di Desa Kuea Tengah.

"Mungkin saya akan terus tetap menjadi penyuluh lingkungan," kata ayah 2 anak ini.

Dia sempat mengenyam bangku kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stipen) yang baru selesai selama 7 tahun. Meski mengaku agak 'ketuaan' saat masuk kuliah, tetapi itu tak mengubah niatnya untuk mendalami ilmu pertanian.

"Sebelumnya juga pernah kuliah tapi tak selesai-selesai 10 tahun. Lalu di Stipen itu mulai tahun 2003," sebut dia.

Berkat kegigihannya itu dia kemudian menjadi Penyuluh Teladan dari Papua. Pada hari itu pun dirinya diundang menghadiri Sidang Tahunan MPR RI untuk menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo. (mad/nrl)


Berita Terkait